segalanya bermula dari niat (3)

Nah teman-teman, sampailah kita pada penghujung trilogi tentang niat ini. Kalau dalam posting lalu kita sudah bicara tentang pentingnya niat dalam menulis dan bersedekah, kali ini kita akan membahas niat menjadi kaya. Kaya yang saya maksudkan disini tentu saja kaya harta. Bagi sebagian besar orang — mungkin termasuk juga kita, kaya harta adalah sebuah impian atau tujuan. Bagaimana tidak? Jika dengan kekayaan segalanya bisa terbeli, segala yang ada di dunia bisa kita dapatkan dengan uang yang melimpah. Kalau kita memandang kekayaan dari arti sempit, memang begitulah adanya. Kekayaan untuk diri sendiri. Tanpa mengayakan orang lain. Tanpa memberi kemanfaatan pada orang lain.

Tetapi jika kita mengaku sebagai insan beriman, tentu sudah paham betul satu hadits Rasulullah, bahwa khayrunnas anfa’uhum linnaas: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Mengingat pembahasan dalam posting ini adalah berkait kekayaan, maka sudahkah harta yang kita miliki bermanfaat bagi manusia lain di sekitar kita? Atau kita justru sebagai penikmat kekayaan milik orang lain, alias sebagai peminta-minta? Pasti kita semua ingin menjadi yang pertama bukan? Memberi kemanfaatan dengan harta yang kita kumpulkan: dengan cara bersedekah, mendirikan panti asuhan, mewakafkan tanah untuk dibangun masjid, menjadi donatur tetap sebuah yayasan sosial, dan cara-cara lain yang sejenis.

Jika memang demikian, selamat, berarti kita ingin menjadi pribadi yang Sukses Mulia seperti yang getol digerakkan oleh salah satu trainer dan motivator Indonesia, Pak Jamil Azzaini. Tetapi hati-hati, karena ini terkait niat, niat yang sangat tersembunyi dan terletak di hati kita yang paling dalam. Yang kita perjuangkan selama ini, niat untuk menjadi kaya, apakah benar untuk mencari ridha Allah? Dengan menjadi kaya, tentu kita akan menjadi hamba Allah yang kuat, yang bisa memberi kemanfaatan lebih bagi sesama, tetapi, benarkah itu yang kita inginkan? Benarkah itu yang kita tuju? Bukan untuk mendapat pujian orang lain, atau dikenal sebagai orang yang bermanfaat?

Dalam Islam, kekayaan hendaknya tidak menjadi tujuan hidup di dunia ini, karena sebenarnya tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Segalanya bisa bernilai ibadah jika kita meniatkan segala apa yang kita lakukan untuk ibadah. Menulis untuk menyampaikan yang benar, itu ibadah. Sedekah untuk mendapatkan ridha-Nya dan balasan di akhirat, itu ibadah. Menjadi kaya agar terjaga dari sikap meminta-minta kepada sesama makhluq, itu juga ibadah. Seperti doa orang shaleh yang saya kutip dari blognya Pak Cah:

“Ya Allah, limpahkanlah kepadaku rejeki yang halal, thayyib, barakah, banyak dan mencukupi. Bukan rejeki yang haram dan syubhat. Bukan rejeki yang menjauhkanku dari kebaikan. Namun juga bukan rejeki yang sedikit, yang tidak mencukupi keperluan hidupku. Limpahkan rejeki yang banyak, yang membuatku bisa mencukupi semua keperluan hidupku dan keluargaku. Yang membuatku bisa memberikan bantuan kepada siapapun yang memerlukan….”
“Ya Allah, aku takut jika Engkau memberikan rejeki sedikit kepadaku, membuat aku meminta-minta kepada hambaMu untuk mencukupi keperluan hidupku. Jika aku meminta-minta kepada  hambaMu, aku takut akan memuji-muji mereka yang memberiku, dan akan membenci mereka yang tidak mau memberiku. Jika seperti itu keadaanku, niscaya aku menjadi orang yang tidak berlaku adil…”
“Ya Allah, jauhkan aku dari meminta-minta kecukupan rejeki kepada hambaMu. Cukupkan aku dengan rejeki yang Engkau limpahkan kepadaku…..”

Nah, gimana kalau cita-cita kita kaya adalah agar dianggap sebagai orang yang mulia dan bermanfaat? Tunggu dulu. Salah-salah nanti malah terbawa pada sikap riya’ (ingin dipuji) dan ujub (bangga pada diri sendiri). Islam sama sekali tidak melarang umatnya menjadi kaya, karena kaya juga banyak manfaatnya: bisa sedekah lebih banyak, bisa berhaji sekaligus menghajikan orang lain, bisa mendirikan panti asuhan anak yatim, bisa membiayai usaha-usaha da’wah, dan lain-lain. Tetapi jangan jadikan kaya sebagai tujuan. Melainkan sebagai alat atau sarana beribadah kepada Allah.

Memandang kekayaan sebagai tujuan akan sangat berbeda dengan memandangnya sebagai alat atau sarana. Seseorang yang hanya menjadikan kekayaan sebagai alat atau sarana tidak akan pernah gelisah jikapun kekayaan tersebut lambat mendatanginya, karena semua sudah diatur oleh Allah, yang terpenting adalah tetap berdoa dan ikhtiar. Sementara, seseorang yang menjadikan kekayaan sebagai orientasi hidup pasti akan mengerahkan segala macam cara agar cepat kaya, bahkan ibadah-ibadah yang sepantasnya hanya ditujukan meraih ridha Allah seperti sedekah dan shalat dhuha pun dilakukan untuk memperlancar jalan rezekinya. Hatinya selalu gelisah memikirkan dunia: bagaimana meningkatkan profit, bagaimana agar pelanggan tidak lari, bagaimana meningkatkan leverage, terus begitu sampai lupa segalanya. Lupa bahwa tujuan penciptaannya di dunia adalah untuk beribadah. Di fikirannya, jika kaya maka akan bermanfaat, lalu dapat pujian, gelar, award, atau apalah yang penting ‘terlihat’ sukses dan bermanfaat.

Padahal, dengan menjadikan dunia sebagai tujuan, maka agama akan menjadi alat. Lihat saja orang-orang yang begitu getol bicara sedekah untuk meningkatkan rezeki, mendapatkan jodoh, mendapatkan keturunan. Perbuatannya memang sangat ukhrawi, tetapi tujuan melakukannya, duniawi sekali bukan? Dengan menjadikan kaya sebagai impian, maka surga yang akan jadi agunannya. Salah-salah, karena niat yang tersembunyi itu, yang sebenarnya tidak ada yang tau selain diri kita sendiri, kita batal masuk surga. Bahkan jadi santapan jahanam. Na’udzubillahi min dzalik.

Sahabat Rasulullah saw yang mulia, Abu Bakar Ash Shidiq bahkan sering berdoa: jadikanlah dunia dalam genggamanku, tapi jangan jadikan ia di hatiku. Karena sebenarnya, yang paling ditakutkan Rasulullah atas umatnya bukanlah kefakiran (yang sering dijadikan dalil para pemburu kekayaan untuk semakin memperkaya diri) tetapi apabila umatnya berlomba-lomba mencari kesenangan dunia lalu melupakan akhirat. Karena sesungguhnya, yang patut kita gelisahkan adalah akhirat. Dengan menggelisahkan akhirat, maka Allah akan menenangkan dunia kita.

Mari niatkan segala sesuatu karena Allah. Menjadi kaya pun semata-mata untuk menolong agama Allah. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bersegera menuju keridhaan-Nya. Amin. Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: