segalanya bermula dari niat (2)

Sesuai janji saya di posting sebelumnya, yakni masih membahas tentang pentingnya niat dalam setiap perbuatan yang akan kita kerjakan. Perbuatan yang akan dibahas dalam posting ini adalah sedekah.

Tentu kita semua tau kalau sedekah adalah salah satu perbuatan baik, terutama dalam hubungan antara manusia dengan manusia (hablummninannaas). Sedekah mengajarkan kepedulian, empati terhadap penderitaan dengan orang lain, berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang nasibnya lebih tidak beruntung dari kita. Tetapi, lebih dari itu, sedekah juga merupakan salah satu usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ridha-Nya, karena perintah bersedekah jelas termaktub dalam beberapa firman-Nya yakni sebagai berikut:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.“ (QS Al Baqarah (2): 195)

”Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah (2): 254)

Selain dua ayat tentang perintah bersedekah di atas, ada juga ayat tentang keutamaan sedekah seperti yang tersebut di bawah ini:

“Perbandingan (pahala) orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah (adalah) seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di tiap-tiap bulir ada seratus biji, dan Allah akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Luas (pemberian-Nya) lagi Sangat Mengetahui.” (QS Al Baqarah (2): 261)

Dari ayat-ayat di atas, jelaslah sudah bahwa sedekah merupakan perintah Allah yang memiliki banyak keutamaan, yang antara lain adalah memperkembangkan harta. Harta yang kita miliki memang berkurang menurut perhitungan matematis, tetapi menurut perhitungan-Nya, harta kita semakin berkembang bahkan barakah. Bahkan tak jarang, harta yang kita sedekahkan diganti dengan balasan yang lebih banyak: tiba-tiba mendapat rezeki dari arah yang tidak terduga, lepas dari hutang yang menjerat, dihindarkan dari marabahaya dan masalah-masalah kehidupan yang menghimpit. Hal-hal tersebut tentu saja merupakan keutamaan dan manfaat yang diperoleh dari bersedekah.

Sedekah, dewasa ini menjadi sebuah gerakan dengan perkembangan yang menggembirakan. Muncul banyak seruan dan aksi untuk bersedekah di masyarakat kita. Namun yang sangat disayangkan, gerakan dan aksi nyata ini tidak dilandasi dengan ilmu yang memadai, padahal dalam bersedekah ilmu ini paling fundamental. Ilmu apakah ini? Tak lain tak bukan adalah ilmu ikhlas.

Akhir-akhir ini, berbagai gerakan yang muncul tidak terlalu memperhatikan keikhlasan dalam bersedekah. Padahal sebuah amal tanpa dilandasi keikhlasan di dalamnya tentu menjadi sia-sia. Seolah-olah, besarnya nominal dalam bersedekah adalah hal utama, sedangkan keikhlasan menjadi prioritas kesekian. Bahkan sempat tercetus ungkapan “Terpaksa sedekah berarti terpaksa masuk surga. Intinya tetap saja masuk surga.” Astaghfirullahal ‘adhim.

Gerakan-gerakan tersebut juga berbeda dalam mendefinisikan kata ikhlas. Seolah-olah ikhlas hanyalah sebuah keringanan dalam memberi, mengeluarkan harta, sebanyak apapun itu. Padahal keikhlasan pada dasarnya adalah tetap melakukan suatu amalan meskipun dalam hati terasa berat, dan tentunya hanya mengharap ridha Allah.

Sedekah yang diperintahkan adalah sedekah yang ikhlas, dalam pengertian diniatkan untuk mencari ridha Allah, mengharapkan kedekatan dengan Allah, bertujuan untuk mendapatkan balasan di akhirat dan surga-Nya, dan disebabkan karena takut akan siksa-Nya. Sama sekali bukan untuk memperkembangkan harta, meraih kekayaan, mencapai cita-cita yang berhubungan dengan kehidupan dunia. Tetapi alih-alih ikhlas karena Allah, yang kita harapkan malah balasan kontan di dunia. Memang kita ikhlas dan rela banget saat mengeluarkan sedekah sebanyak apapun, tetapi yang terbersit di hati “ah, sedekah lima ratus ribu nanti balesannya lima juta cash”. Lebih lanjut, ada pula yang beranggapan bahwa sedekah besar merupakan kunci rezeki besar. Wah, kalau begini, orientasi sedekah jelas bergeser dong. Dari meraih ridha Allah dan membantu sesama manusia, menjadi semacam cara cepat meraih kekayaan.

Padahal, Allah sudah melarang kita bersedekah dengan berharap balasan lebih banyak, seperti difirmankan dalam salah satu ayat berikut ini.

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al Muddatstsir (74): 6)

Padahal juga, setiap orang memperoleh balasan sesuai dengan yang ia niatkan. Kalau kita bersedekah dengan niat untuk menambah harta, meraih kekayaan lebih banyak lagi, meraih cita-cita yang hubungannya hanya dengan dunia, boleh jadi Allah memang mengabulkannya untuk kita. Tetapi jangan menyesal kalau kita tidak mendapat bagian di akhirat. Apalagi kalau sedekah sambil berharap balasan kontan di dunia, eh nggak taunya di dunia nggak dapat, di akhirat pun nggak. Dobel menyesal deh. Na’udzubillahi min dzalik. Hal ini juga dikuatkan dengan firman Allah berikut.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.” (QS Asy Syuura (42): 20)

Makanya, mulai perbaiki dan luruskan niat yuk. Jangan sampai amal perbuatan yang pada dasarnya baik, menjadi rusak pahala dan keberkahannya hanya karena niat yang nggak baik. Mumpung belum terlambat, karena segalanya bermula dari niat.

selain untuk mengingatkan diri sendiri, tulisan ini juga sekaligus untuk meluruskan apa-apa yang sudah saya tulis di posting terdahulu terutama yang berkaitan dengan sedekah, mengingat saya getol sekali menulis tentang sedekah, namun tanpa dilandasi ilmu yang memadai. pada dasarnya, saya setuju dengan sedekah yang banyak dan ikhlas. tetapi memang tidak perlu berlebih-lebihan sehingga lalai memperhatikan hajat hidup kita sendiri. karena dengan sedekah yang berlebihan dan membuat hajat hidup terbengkalai, akan mendorong sikap meminta-minta kepada selain Allah. padahal Rasulullah sendiri menganjurkan kita untuk menjauhkan diri dari meminta. sehingga yang benar, tujuan menjadi kaya agar bebas dari sikap meminta-minta kepada makhluq-Nya. tulisan ini juga bukan untuk menganjurkan kita untuk memberi sesuatu yang ala kadarnya. karena telah jelas disebutkan dalam QS Ali ‘Imran (3): 92, bahwa kita harus memberi dengan apa yang kita cintai. dan yang pasti, hanya Allah yang Maha Mengetahui hukum yang Ia turunkan, jadi tidak sepantasnya kita melebih-lebihkan ataupun mengurang-nguranginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: