segalanya bermula dari niat (1)

Teman-teman, posting kali ini agak berbeda dari sebelumnya. Berat sekali bagi saya untuk menulis, setelah mengetahui bahwa segala amal perbuatan tergantung dari niatnya. Dan bahwa niat itu sangat tersembunyi, karena letaknya di hati. Boleh jadi mulut kita berkata bahwa tujuan kita berbuat baik adalah meraih pahala dan ridha Allah, tetapi dalam hati kita sedikit disusupi perasaan ingin dipuji orang lain, maka itu sudah mengurangi kesempurnaan amal tersebut.

Pembahasan tentang pentingnya niat kali ini, saya rencanakan menjadi 3 bagian, yakni tentang amal-amal perbuatan yang pada dasarnya baik, tetapi menjadi rusak karena niat yang buruk. Dua amal perbuatan yang akan saya bahas adalah menulis dan sedekah. Sedangkan satu perbuatan (atau niat perbuatan) yang akan ditulis pada bagian ketiga yakni niat untuk menjadi kaya. Baiklah, kita mulai pembahasan pertama tentang menulis.

Bagi kita penulis pemula — maksudnya, penulis yang karyanya belum pernah dimuat media manapun atau diterbitkan oleh penerbit apapun — kegiatan menulis bukan merupakan kegiatan yang mudah. Kehabisan ide, hampir selalu dialami hampir sebagian besar dari kita. Belum lagi jika sudah berkali-kali mengirim tulisan ke media, penerbitan, atau mengikuti berbagai sayembara kepenulisan, tetapi karya kita tak pernah dimuat atau lolos seleksi. Hal-hal tersebut tentu berpotensi melemahkan semangat bahkan jika kita kurang kuat mental, akan putus asa dari cita-cita menjadi penulis.

Lalu pertanyaannya, kenapa harus putus asa? Kenapa harus merasa frustrasi jika satu waktu kita harus stuck karena kehabisan ide? Kenapa merasa menjadi orang yang gagal jika belum satupun tulisan berhasil dimuat di media atau diterbitkan oleh penerbit? Jawabannya, tanyalah pada hati kita masing-masing. Apakah tujuan kita menulis? Apakah tujuan kita menjadi penulis?

Mungkin kita akan menyebut sederet alasan: aku menjadi penulis agar bisa menebar manfaat, aku menulis agar orang lain menjadi terinspirasi dengan tulisanku, aku ingin menulis untuk kebaikan dan kemaslahatan umat, aku menulis untuk menolong agama Allah. Sungguh, alasan-alasan yang sangat mulia. Intinya, menulis untuk kebaikan. Tetapi, cobalah tanya hati kita yang lebih kecil — maksudnya hati kecil😛 — adakah niat lain yang tersembunyi di baliknya? Mungkin bisikan-bisikan seperti: kalau tulisanku ini menang kan bisa dapet hadiah tuh, kalau tulisanku akhirnya diterbitin jadi buku kan lumayan tuh dapet royalti, semoga bukuku nanti best-seller jadi aku nggak perlu capek-capek kerja kantoran lagi. Nah, jika bisikan-bisikan seperti itu yang sedikit membersit di hati kita, wajarlah jika kita merasakan kegelisahan yang sangat, ketika karya kita ditolak media/penerbit atau tulisan kita belum pernah memenangkan sayembara apapun.

Maka, tanyalah pada hati kita masing-masing. Benarkah kita menulis untuk menolong agama Allah? Benarkah yang kita tulis adalah kebenaran? Ingatlah bahwa kebenaran itu bukanlah hal-hal yang membuat kita nyaman dan tanpa beban saat menulisnya, bukan pula yang serta-merta terlintas di benak kita. Kebenaran adalah idealisme yang bersumber dari Qur-an dan Sunnah yang tak pernah habis untuk dikupas. Jadi jangan pernah takut kehabisan ide.

Jika kita menulis dengan niat untuk menolong agama Allah, kita tidak akan pernah kecewa jika sampai waktu yang tak terbatas karya kita tak juga diterbitkan. Karena yang menilai bukan media, bukan penerbit. Yang menilai adalah Allah. Jika kita menulis karena Allah untuk menyampaikan kebenaran din-Nya yang mulia, niscaya kita juga tak menggerutu jika tak satupun orang memuji tulisan kita. Kalaupun orang lain memuji, hal itu takkan membuat kita besar kepala, karena menyadari kebenaran yang kita tulis asalnya dari Allah semata.

Selanjutnya, jangan pula lupakan kejujuran, karena kita bertanggung jawab penuh atas apa yang kita tulis. Jadi jangan sekali-sekali menulis hal-hal yang tidak atau belum bisa kita lakukan. Karena menulis seperti halnya bicara. Tak akan ada yang percaya jika kita hanya omdo: omong doang. Menulis juga harus didasari prinsip walk the talk, bukan untuk menarik simpati manusia, melainkan lebih kepada pertanggungjawaban kita di hadapan Allah.

Pada akhirnya, semua bermula dari niat. Tulisan ini bukanlah untuk mengerdilkan mental atau melemahkan motivasi kita yang bercita-cita sebagai penulis. Justru membuat kita semakin bersemangat menulis karena motivasi yang kita gunakan adalah setinggi-tinggi motivasi, yakni surga dan pahala-Nya di akhirat. Sesungguhnya pada bayan (bahasa) itu ada sihirnya, begitu kata Ustadz Fauzil Adhim. Jadi, berhati-hatilah terhadap pujian dan ridha manusia yang akan menghinakan kita di hadapan-Nya jika kita terperdaya.

Wallahu a’lam bishshawab.

(ditulis sekaligus untuk menjadi pengingat bagi diri sendiri agar selalu memperbaiki dan menyucikan niat ketika melakukan apapun, termasuk menulis)

2 Comments »

  1. Sepakat Ki, hehe udah lama nggak mampir ke blogmu lagi. Untuk menulis…ya, aku sepakat denganmu. Niat yang kuat itu perlu, idealisme perlu, pengetahuan tentang pasar juga perlu, dan satu lagi…action lah yang paling perlu. Kalo boleh cerita dikit tentang dunia kepenulisan yang aku tahu (masih dikit sih, tapi setidaknya terlibat dengan penerbitan dan perbukuan udah kualami hingga terbit karya ke-7 ku kini), memang unik bin aneh.

    Tahu nggak, sebelum akhirnya buku pertamaku tembus, udah lupa berapa naskah tulisan, artikel atau fiksi yang kukirim ditolak. Jengkel pernah, males sering, putus asa ngicipin juga, tapi Alloh tidak pernah lengah barang sepermilyar detik pun. Karya kita yang “gak laku” itu merupakan portofolio yang akan terakumulasi hingga suatu saat nanti muncul masterpiece karya kita berdasar “pengalaman pahit” tadi.

    Terus saja menulis, sampai detik “klik” waktunya tiba, dan kita akan terpesona dengan keajaiban takdir-Nya. Tahu nggak, buku pertamaku dulu tu boleh dibilang “kebetulan terencana yang sangat memaksa”. Lho? Ya, ada satu orang editor buku pelajaran yang juga adi kelasku dulu ingat bahwa aku sering nulis karya ilmiah. Dihubunginya aku, padahal no HP ku dah ganti. Telpon rumah, aku dah di krapyak. Sampai beberapa kali ia coba hubungi aku gak kejadian ketemu. Akhirnya titip pesan pada Mas Didit, titip nomer…sampai akhirnya kuhubungi balik. Deal, aku langsung menulis 3 buku sekaligus…tentang Biologi.

    Bayangpun, jika dulu dari kuliah aku gak nulis (sering ditolak, gagal, coba lagi, gagal maning, sampai akhirnya menang Nasional), pasti referensi namaku gak ada di otak adek kelasku tadi. Lalu pertanyaannya, siapa yang “menginspirasikan ide” ke otak editor tadi?? Dia lah Alloh, yang tak lengah mencatat segala apa yang pernah kita lakukan dulu. Sampai tulisan kita benar2 udah mantab dan layak masuk penerbitan, Alloh akan training kita secara privat, khusus dan eksklusif. Cuma itu tadi, banyak dari kt ngeluh bahwa Alloh gak kabulkan doa kita utk jadi penulis yg karyanya diibaca ribuan orang. Padahal sedang proses…! Luar biasa, Dia, Alloh, dengan begitu perhatian pertemukan calon penulis ini dengan rintangan, terpaan, pengalaman, orang2 khusus…hanya untuk mengabulkan doa pada sebuah malam yang sunyi. “Ya Alloh, semoga tulisanku bisa menginspirasi banyak orang untuk semakin taat pada-Mu.” Amin

    • masya Allah mas, cerita yang sangat menarik.. memang bener, hanya Allah dan kuasa-Nyalah yang akan membuat segala yang terlihat nggak mungkin jadi mungkin.. sipsipsip, ceritamu benar-benar menginspirasiku untuk terus menulis, dengan tujuan yang baik dan mulia tentunya🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: