meluruskan yang bengkok

ya Allah, kami minta maaf ya

selama ini hanya dunia yang kami kejar

hanya peduli dengan prestasi-prestasi dunia

banyak bicara tentang sedekah, tapi bukannya untuk mendekatkan diri pada-Mu

bukan berharap ridha, pahala dan surga-Mu

tidak berfikir balasan di akhirat nanti

malah minta kelapangan rezeki, kemudahan jodoh, keselamatan dari bala

selama ini sedekah untuk ‘menyogok’-Mu

padahal apalah kami ini

hanya hamba hina penuh dosa berani-berani menghina Tuhannya untuk sesuatu bernama dunia

alangkah bodohnya diri ini

percaya begitu saja dengan perkataan yang belum tentu jelas kebenarannya

bukannya dulu kami juga tau: sedekah itu haruslah ikhlas?

bukannya dalam kitab-Mu juga tertulis: janganlah bersedekah dengan mengharap balasan yang lebih banyak?

tapi betapa bodoh diri ini

betapa dibodohkannya diri ini dengan statement-statement yang menyatakan bahwa menjadi hamba-Mu itu haruslah kaya

dengan kekayaan maka kemanfaatan bertambah

dengan kekayaan maka kemuliaan bertambah

padahal, bukannya Engkau tak pernah memperhatikan rupa dan harta kami, ya Allah?

yang Engkau lihat hanya ketaqwaan dan kebersihan hati kami, iya kan?

tapi tega-teganya kami mempercayai semua dusta itu

bahwa kefakiran dekat dengan kekafiran

bahwa jika kemiskinan berwujud manusia, maka Sayyidina ‘Ali yang akan membunuhnya

bahwa hidup berarti mengejar dunia seolah akan hidup selamanya, juga mengejar akhirat seolah akan mati besok pagi

tapi.. tapi.. yang kami lakukan, berdalih melakukan hal-hal yang ukhrawi, padahal untuk tujuan-tujuan duniawi

berdalih mencita-citakan akhirat, padahal dunia adalah tujuan akhir kami

ingin kaya untuk bermanfaat dengan mendirikan rumah tahfizh dan perpustakaan

ingin jadi penulis untuk menebar manfaat bagi kemaslahatan umat

padahal sesungguhnya, kami hanya berdusta ya Allah

kami ingin kaya untuk menikmati popularitas, dikenal sebagai orang yang dermawan

kami ingin banyak sedekah agar manusia menganggap kami mulia dan bermanfaat

kami salah memahami “khayrunnas anfa’uhum linnaas”

kami lalai memaknai pengabdian

padahal, tulus mengabdi berarti terus beramal meski manusia tak melihatnya

layaknya rayap, terus membangun rumah dalam pekatnya kayu

tetap bekerja meski pekerjaannya tak dianggap manusia

tak kenal lelah karena hanya Engkaulah sebab, alasan dan tujuannya

tak pernah menyerah karena sadar, di jalan-Mu-lah ia berjuang

sama sekali tak seperti kami

yang sedekah, dhuha dan tahajudnya berharap dunia

merasa sudah berlebih dalam ibadah

tapi akhirat tak buat kami gelisah

untuk kelalaian dan kebodohan kami

sungguh kami mohon ampun wahai Yang Maha Pengampun

ditulis sebagai permohonan maaf atas tulisan-tulisan sebelumnya, yang sangat banyak bicara tentang sedekah tanpa dilandasi ilmu yang memadai. semoga Allah karuniakan ampunan untuk saya sebagai pengutip dan penyebarnya di blog ini. mohon maaf sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada teman-teman yang, karena tulisan-tulisan saya, menjadi setuju bahwa:

1. sedekah tak harus ikhlas, yang penting banyak
2. segala amal boleh dilandasi harapan untuk kebaikan dan balasan kontan di dunia
3. law of attraction itu ada, mestakung (semesta mendukung) itu berlaku, yakin pada kemampuan diri itu harus

padahal yang benar:

1. semua amal perbuatan harus dilandasi ikhlas, dan ikhlas bukan memberi dengan ringan. ikhlas berarti tetap beramal meski terasa berat
2. semua amal perbuatan tergantung niatnya, sehingga sedekah berharap surga itu boleh. sedekah berharap ridha Allah itu boleh. sedekah sebagai usaha mendekatkan diri pada Allah itu boleh. sedekah berharap balasan di akhirat itu boleh. niat kaya untuk menolong agama Allah itu boleh. niat kaya untuk membebaskan diri dari meminta kepada selain Allah itu boleh.
3. yakin itu boleh, tapi yakinlah hanya kepada Allah, bukan pada alam semesta. bukan pada hukum tarik-menarik (law of attraction). karena segala daya, upaya dan kekuatan hanya milik Allah. segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah.

yang harus diingat: jangan kaya menjadi tujuan hidup. jangan kebahagiaan dunia menjadi sumber kegelisahan. karena, dengan menggelisahkan akhirat, maka Allah akan menenteramkan dunia kita.

(ditulis sekaligus untuk refleksi diri, setelah tanpa sengaja membuka timeline Ustadz Mohammad Fauzil Adhim)

4 Comments »

  1. lifeisabridge said

    keren,tulisannya😀

  2. Aji Noor said

    makasih Ki..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: