aku + dia = cinta?

Kalau yang kulihat kegagahan, bersiaplah kecewa saat perutnya membuncit, wajahnya mengeriput. Kalau yang kulihat kekayaan, bersiaplah kecewa saat kebangkrutan melandanya, atau perusahaan memecatnya. Kalau yang kulihat kepintaran, bersiaplah kecewa saat ia mendadak sombong, merasa paling benar. Kalau yang kulihat popularitas, bersiaplah kecewa saat ia melakukan kesalahan.

Kalau aku terlalu mengagumi seseorang, sampai melupakan siapa penciptanya, aku akan kecewa saat ia tak sebaik yang kufikirkan. Kalau aku terlalu mencintai seseorang, melebihi cinta kepada penciptanya, aku akan terpuruk saat ia tak lagi mencintaiku. Kalau aku terlalu meyakini janji seseorang, melebihi yakinku pada janji-Nya, aku pasti putus asa saat ia ingkar janji.

Kalau yang kudengar selalu kata orang, bersiaplah untuk lelah menuruti semuanya. Kalau yang tampak baik selalu materi, apa masih baik saat semua waktunya tercurah untuk mengejar uang dan karir? Kalau mendadak aku didekati seorang penyandang pendidikan tinggi, keturunan terhormat, kekayaan melimpah, bersiaplah keangkuhan mendatangi, merasa diri paling tinggi, paling hebat.

Lalu mana bersyukurmu, rendah hatimu, qana’ahmu? Saat kau nilai seseorang hanya dari predikat dunia yang ia punya. Apakah hanya itu yang kau banggakan dari diri pasanganmu? Untuk apa? Dipamerkan pada sahabat-sahabat dan keluargamu? Bahan cerita pada teman-temanmu? “Iya, dia itu lulusan perguruan tinggi X, sekarang kerja di perusahaan Y, gajinya sekian juta rupiah.” Saat dimensi fisik hanya jadi prioritasmu, bersiaplah kecewa saat semua kebagusan fisik itu meninggalkannya, meninggalkanmu. Lihat, di hadapanmu dia hanya laki-laki yang sudah tak lagi menawan, miskin pula. Apa yang dia punya? Masihkah pantas kau yang masih cantik ini mendampinginya? Pasti begitu fikirmu. Lalu kau mulai mencari-cari yang lain, yang lebih dari pasanganmu sekarang. Lebih ganteng, lebih kaya. Terus begitu. Sampai kau puas. Tapi apakah bisa puas? Lalu mana bersyukurmu, rendah hatimu, qana’ahmu?

Pikir lagi, jika laki-laki yang kau pilih ini hanya memuaskan gengsimu, sekedar menaikkan reputasimu di hadapan teman-teman dan keluargamu, apakah benar ketulusan yang kau punya?

Alangkah indah jika yang kau perhatikan adalah kerajinan ibadahnya, kesantunan akhlaqnya, kasih sayangnya pada keluarga dan orang-orang di sekitarnya, kecintaannya pada penciptanya, pasti kau takkan kecewa. Karena, kalau dia juga mencintaimu, dia akan memuliakanmu, dan kalaupun dia tidak mencintaimu, dia tidak akan menyakitimu.

4 Comments »

  1. uyayan said

    kalau ngebahas soal cinta takan pernah habis ceritanya…
    kalau boleh saya sedikit bicara tentang cinta “tunjukanlah rasa cinta itu dengan perbuatan”..

    salam persahabatan dari kota hujan..

    • terima kasih komentarnya pak, salam persahabatan juga dari kota metropolitan🙂

  2. dwihimura said

    subhanallah..
    tiada manusia yang sempurna.
    Yang Kekal hanyalah DIA dengan segala Kemahaan-Nya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: