cerita dari masjid tanah abang

Assalamu’alaykum wr wb, selamat hari Jumat teman-teman!!

Di hari Jumat yang mulia ini aku mau cerita pengalamanku waktu shalat di masjid Tanah Abang. Sabtu (30/7) yang lalu, aku sama Mbak Nunung, mbak sepupuku, belanja keperluan hari raya di Blok A Tanah Abang. Kami memang sengaja belanja jauh-jauh hari sebelum lebaran tiba – bahkan sebelum datangnya bulan Ramadhan – karena konon, kalau puasa-puasa, Tanah Abang bakal puenuuuuuh buanget, akibat banyaknya ibu-ibu dan mbak-mbak yang juga belanja keperluan lebaran. Seperti yang sudah diduga, siang itu Tanah Abang layaknya gula yang dikerubuti semut-semut kelaparan, seolah seluruh penduduk kota Jakarta bermigrasi ke pasar yang udah jadi surga belanja dan kulakan kaum hawa itu. Pokoknya tumplek blek deh, sampai buat makan di food court-nya aja harus ngantri!! *maklum Jakarta, apa sih yang nggak macet dan ngantri??

Singkat cerita, waktu Dhuhur pun tiba. Aku dan Mbak Nunung menghentikan kegiatan belanja kami dan segera bergegas menuju masjid yang terletak di lantai teratas Blok A. Masjid ini ternyata jauhnya nggak main-main, teman-teman. Rasa-rasanya kami udah menaiki banyak eskalator tapi nggak nyampek-nyampek juga. Maklum, ternyata masjid yang – maaf aku lupa namanya ini – berlokasi di lantai 12, edan yo, pantesan dari tadi nggak nyampek-nyampek sampai kaki udah pegel banget. Tapi begitu sampai, waah, subhanallah, masjidnya baguuuus banget. Jauh dari stigma masjid di pusat perbelanjaan yang mayoritas kecil, kotor, dan nggak terawat. Kayaknya masjid Tanah Abang ini bener-bener didesain sedemikian rupa supaya para pengunjung betah berlama-lama sekaligus bisa istirahat setelah kelelahan belanja. Beneran lho, rasa lelah akibat ‘mendaki’ eskalator sampai lantai 12 langsung terbayar begitu melihat gagahnya masjid Tanah Abang *lebay.

Tapi pengalaman paling berkesan justru kami dapatkan dari toilet masjid ini. Jadi sebelum shalat kami pipis dulu di toilet yang letaknya di utara masjid. Dan di toilet wanita berbilik enam itulah kami melihatnya. Seorang wanita muda berusia sekitar 30-an tahun, mengenakan celana panjang, kaos panjang dan jilbab kaos, membawa piranti bersih-bersih yakni kain pel dan gagangnya. Di bawah kakinya terlihat seember air dan sebotol cairan pembersih kamar mandi. Ya, mbak-mbak berpostur agak subur ini adalah petugas kebersihan di toilet masjid Tanah Abang. Sekilas memang tak ada yang istimewa dari keberadaan mbak-mbak yang tak kuketahui namanya ini. Keistimewaan sebenarnya mulai tampak saat satu dari enam pintu toilet terbuka, diikuti keluarnya wanita yang telah selesai menunaikan hajatnya. Nah, sebelum wanita lain masuk untuk buang hajat, mbak-mbak petugas kebersihan ini lebih dahulu masuk sambil bilang “Sebentar ya Bu, saya bersihkan dulu.” Setelah kloset dan lantai selesai dibersihkan, barulah satu demi satu wanita yang mengantri diizinkan masuk. Begitulah, mbak-mbak ini seolah tak pernah lelah untuk keluar-masuk toilet untuk membersihkan kloset dan lantai sehingga toliet wanita di masjid ini nggak cuma bebas bau, tapi juga mengkilap.

Saat itulah entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Sungguh berat perjuangan si mbak dalam mencari sesuap nasi, sementara aku, dengan pekerjaan yang tidak terlalu berat, dengan rutinitas yang biasa-biasa aja sudah buanyaaaak sekali mengeluh. Tiba-tiba dari kepalaku langsung tercetus ide yang juga langsung disetujui Mbak Nunung. Malam sebelumnya, kami memang mengumpulkan sejumlah uang untuk diberikan kepada yang memerlukan. Sedianya uang itu akan kami berikan pada bapak penjual nasi goreng dekat kosku, tapi entah kenapa malam itu banyak orang hingga membuat kami sungkan memberikan pada si bapak. Akhirnya uang itu masih kami simpan sampai kami menemukan orang yang kami rasa pantas menerimanya. Dan alhamdulillah, siangnya kami berjumpa dengan orang yang lebih pantas. Mungkin ini skenario Allah ya? Rasa syukur lirih terucap dari mulut si mbak begitu amplop kuberikan padanya. Mungkin si mbak senang dan bersyukur, tapi sebenarnya akulah yang lebih pantas senang dan bersyukur.

Selama ini aku sering berkhayal bisa bersedekah kepada para pekerja keras, seperti tukang sapu jalanan, tukang koran yang rela berpanas-panas menjajakan dagangannya, kuli pasar, tapi herannya, di kota ini, belum pernah aku ketemu sama yang begituan. Malah tiap hari ketemu sama pengamen yang galaknya minta ampun, yang marah-marah sampai memaki kalau nggak dikasih, yang minta sambil maksa, yang rela menyilet-nyilet tubuhnya sambil teriak-teriak nggak karuan “lapar tuan, lapar nyonya, daripada kami merampok mencuru lebih baik kami minta,” yang nyanyi dengan hatipun nggak, yang.. masih panjang daftarnya yang jelas buat teman-teman penumpang setia metromini pasti hafal luar kepala ulah para pengamen model beginian.

Ya, memang hikmah dan pelajaran bisa diperoleh dimana saja. Guru kehidupan juga bisa dari siapa saja. Dan dari mbak-mbak petugas kebersihan toilet di Masjid Tanah Abang inilah aku belajar untuk lebih bersyukur atas kehidupan yang dianugerahkan Allah padaku.

Yaudah deh, segini aja ceritanya ya, teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Selamat menjalani sisa hari Jumat yang penuh berkah, selamat menunggu waktu buka puasa yang tinggal sekitar 5 jam lagi, selamat berakhir pekan. Semoga weekend-nya nggak cuma menyenangkan tapi juga bermanfaat.

Wassalamu’alaykum wr wb

6 Comments »

  1. hi rizki..hehehe..baru aja liat blogmu nih..menarik..🙂
    kalo Na,,pengalaman pertama ttg masjid Tanah Abang:
    nyarinya susyehh,, but masjidnya buaguuss..
    n ada kejadian menghebohkan di toilet masjid.. ada ibu2 entah sapa yg buang ‘orok’ bayi di sana..huhuuuwww..trenyuh bgt..ada ibu setega itu.. sayanknya bayinya udah tak terselamatkan..😦

    • blackmimi said

      hey ana!! makasih ya udah baca dan berkomentar, kalo ana punya blog g? bagi link-nya dong..
      waah, kok medeni banget na! pasti menghebohkan banget ya, pas itu? ya ampuun, untung pas ak kesana g ada kejadian seheboh itu, hehehe

      • aNNa's said

        ehhee..saia mood2an kalo ngeblog ki.. :p isinya pun geje,,hahaayyy..
        ini link nya: http://www.dunia-kita15.co.nr sama memoarbunda.blogspot.com

        ho’oh..ada beberapa polisi n dikasih police line githu.. ^^,
        jadinya saia yg pengen pipis ga bisa masuk.. padahal udah di ujung tanduk..>.< hahaaa…

      • halah na, blogmu menarik banget gitu kok, baik desain maupun isinya, apalagi yang tentang keluarga tuh, banyak dapet ilmu, hehehe.. eh btw tapi kok aku nggak bisa ngomen ya, makanya aku ngreply disini, hehehe

  2. Nice posting, Ki. Secuil kehidupan di jakarta. Magnet harapan yang besar, banyak orang2 dari daerah2 kecil yang pergi ke jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tanpa bekal ketrampilan dan mental yang cukup. Akhirnya mereka membuat sesak ibukota meninggalkan daerah mereka terbengkalai kekurangan SDM. Apakah ini akibat pembangunan yang tidak merata? ataukah globalisasi yang mendorong orang untuk ingin mendapat hasil besar dengan instan dan kepala mereka berkata ” di jakarta aja gampang”? Entahlah, yang jelas di Klaten kulihat sebaliknya. Di sini banyak peluang yang ditinggalkan orang2nya untuk bekerja di kota. Padahal jika mau sedikit kreatrif, setiap daerah menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Ah entahlah, Jakarta dan kota2 besar senantiasa menyedot manusia untuk datang. (kok jadi malah beranalisis ya hehe? tq 4 ur sp4ce)

    • ho’o mas, bener banget!! di fikiran orang-orang daerah, jakarta menjanjikan kehidupan yg lebih baik, puadahal asline.. malah akeh orang-orang tak terurus neng kene, gelandangan dsb..
      hmm, memang sudah saatnya menggalakkan gerakan ‘kembali membangun kampung’.. salut untuk usahamu merintis bisnis di klaten, maju terus!!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: