sedikit tentang komunikasi dan pergaulan sehari-hari

Selasa (12/7) lalu, saya mendapat pelajaran berharga dari seorang teman kos, dimana dalam suatu obrolan ringan antar anak kos dia menegur saya,”Ki, kamu tu kalo diajak ngobrol, liatin orang yang ngajak ngomong dong. Mata kok kemana-mana.” Ternyata selama ini saya dianggap jarang sekali melakukan eye contact terhadap lawan bicara saya, dan hal ini memicu kejengkelan teman tersebut terhadap saya sehingga dia terkesan agak menghindari saya, terutama untuk obrolan yang agak ‘berbobot.’ Saya sendiri juga merasa sikapnya agak berbeda, dulu sih saya agak mikir, ttapi lama -kelamaan saya nggak terlalu ambil pusing. Setelah sekitar setengah tahun bergaul dengannya, saya baru tau jawabannya.

Dia ini memang tipe orang yang, selain peka dan cenderung ‘pengamat’, juga sangat mementingkan kontak mata dalam komunikasi. Baginya orang yang menghindari kontak mata, selain karena rasa kurang percaya diri, terkesan kurang menghargai lawan bicara, tidak tertarik dengan apa yang dikatakan si pembicara, dan lain-lain kesan sejenis. Wow, jujur saya baru tau lho!

Memang selama ini teman-teman menganggap saya telmi, lemot, lola, dan sebangsanya. Nah, mungkin salah satu penyebabnya karena saya jarang melakukan eye contact terhadap lawan bicara, akibatnya ya ituu: kurang fokus, kurang konsentrasi terhadap apa yang dia bicarakan, sehingga kurang bisa menangkap substansi pembicaraan. Singkatnya ya stigma telmi, lemot, lola, dan sebagainya begitu melekat pada diri saya.

Jujur aja, emang kadang saya mendengarkan cuma sepintas alias sambil lalu, sehingga apa yang bisa saya tangkap dengan baik hanya bagian-bagian yang menarik bagi saya. Terhadap obrolan yang kurang menarik, saya memang tidak terlalu apresiatif. Saya baru sadar hal ini cukup menyakitkan bagi lawan bicara ya baru kemarin. Selama ini saya berfikir, “ah, nggak papa dengerin cuma dikit-dikit, yang penting nggak blank, lagian kalo nyuruh dia ngulang-ngulang kan nggak enak juga, mendingan pura-pura ngerti.” Hal ini terutama kalau ada pembicaraan terkait penjelasan. Contohnya nih: pas dijelasin petunjuk penggunaan suatu alat, biasanya saya iya-iya aja dulu, nggak tanya-tanyak lebih detail, tapi begitu praktek langsung setelahnya, saya bingung dan ujung-ujungnya minta penjelasan lagi. Hehehe, parah banget. Ya semua ini karena saya orangnya nggak enakan banget. Tapi kalau kayak gitu kasusnya, malah lebih nggak enak lagi to? Seolah-olah emang cuma ‘mendengar,’ bukan ‘mendengarkan.’

Hmm, lewat obrolan itulah saya jadi tersadarkan kalau kontak mata itu memang penting, karena selain bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi, juga bisa menambah kenyamanan lawan bicara saat bicara dengan kita. Nggak ada yang lebih nyaman dan menyenangkan dalam obrolan, selain perhatian penuh dari lawan bicara kita bukan? Ini berlaku terutama untuk sesi curhat yang memang perlu extra attention. Lagipula dengan adanya kontak mata juga mengindikasikan bahwa kita cukup nyaman dan confident dengan pembicaraan. Lihat saja pada kasus orang yang berbohong, pasti dia nggak akan berani menatap mata lawan bicaranya kan? Itu semua karena dia nggak pede sama omongannya sendiri. Nah, makanya dengan kontak mata juga sekaligus bisa melatih kepercayaan diri kita, karena salah satu tanda kurang pede adalah dengan menghindari kontak mata.

Kalau dari kasus saya sih, saya jarang melakukan eye contact karena beberapa hal: memang lagi sibuk dan nggak fokus *entah itu lagi SMSan, nyetrika, atau di depan komputer, nggak pede *terutama kalau ngobrol sama orang yang belum terlalu deket, dan memang nggak terlalu tertarik. Kedua terakhir inilah yang mesti dibenahi biar komunikasi makin efektif. Kalau alasan pertama sih, yang ngajak ngobrol mesti maklum, hehehe.

Obrolan ringan lalu juga membuahkan pelajaran lain bagi saya, bahwa saya tetap harus menghargai diri sendiri, terutama dalam kasus kurang ‘klik’ dengan seseorang dan menghadapi teman yang sedang badmood. Ya, selama ini saya sering menganggap ‘ini semua salah saya’ kalo nggak nyambung dengan seseorang dan kalo kebetulan berhadapan sama temen yang yang lagi bete. Padahal belum tentu juga kan? Dalam kasus kurang ‘klik’ misalnya, bukannya memang nggak ada ya yang namanya universal popularity, dimana kita harus bisa nyambung dengan semua orang di dunia ini? Wajar aja dong, yang namanya kurang ‘klik’ antar teman. Jadi walaupun disambung-sambungin kayak gimana juga, tetep aja nggak nyambung. So, kalau kita udah berusaha untuk ‘menyambungkan’ diri, mencari-cari pembicaraan, membuat yang bersangkutan nyaman dengan kita, dan yang jelas memastikan kalo kita memang nggak punya salah sama dia, tapi respon dia tetep kurang baik, stop blaming yourself! Itu bukan salah kita kok. Mungkin kita memang nggak ‘klik’ sama dia. Yang penting sih, tetep ramah, ceria, dan berbuat baik aja. Intinya tetep jadi dan menghargai diri sendiri aja.

Nah, terkait menghadapi teman yang lagi bete dan hal itu membuat dia yang biasanya ramah jadi kurang ramah, just diemin aja. Kasih dia waktu untuk menenangkan diri, jangan ditanyain macem-macem, nanti yang ada dia jadi tambah bete gara-gara kita. Dan patut diingat, kalau kita memang ngerasa nggak punya salah sama dia, nggak usah merasa bersalah, diemin aja, ntar dia juga baik sendiri. Beda soal kalau dia memang bete gara-gara kita, nah ini kita yang harus introspeksi diri, buruan minta maaf, jangan malah diem — apalagi dengan alasan takut dia tambah bete. Lha wong penyebab kebeteannya kita sendiri lho!

Hmm, ya sudah deh, segini dulu aja yang bisa saya tulis. Mudah-mudahan ada manfaatnya — terutama buat teman-teman yang sering mengalami kasus yang sama dengan saya.

*special thanks to my boarding-house mates: dhini, alva, hetti, eni

4 Comments »

  1. jadi inget dikos blok A,kangeeeennn kikiiiiiii

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: