ternyata sukses saja tak cukup

Sukses. 6 huruf yang tentunya menjadi impian semua orang. Sukses selama ini identik dengan harta dan kekuasaan (tahta). Inspirator Jamil Azzaini menambahkan indikator kesuksesan yang lain: yakni kata dan cinta. Kata yakni pujian orang-orang di sekitar kita atas kesuksesan yang telah kita raih. Sedangkan cinta, tentu saja, kasih sayang yang diberikan orang sekitar, terutama keluarga. Dengan sukses, otomatis kehidupan kita akan bahagia. Tetapi apa sukses saja cukup untuk mendapatkan kebahagiaan sejati? Belum tentu.

Lihatlah orang yang kelewat bersemangat mengumpulkan harta, mencari pangkat dan jabatan (kekuasaan), pergi pagi pulang malam sampai melupakan tanggung jawab moralnya terhadap keluarga. Memang secara material, orang-orang seperti ini amat besar tanggung jawabnya untuk keluarga. Memperkaya diri, mensejahterakan keluarga. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Uang dan kekuasaan yang didapat sudah pasti bertambah, tapi kehangatan keluarga pelan tapi pasti akan berkurang. Buktinya sudah banyak, keluarga yang ayah ibunya terlalu sibuk mengejar uang, anak-anaknya pasti terlantar, hingga akhirnya nilai sekolahnya turun, tidak naik kelas, bahkan tak sedikit yang terlibat juvenile delinquency, atau kenakalan remaja. Ya, ini semua karena orang tua yang seharusnya dekat dengan anak, keluarga yang seharusnya menjadi lembaga pendidikan pertama bagi anak, melupakan peran dan tanggung jawab utamanya. Apa ini yang disebut bahagia?

Kalaupun hal seperti itu tidak terjadi pada keluarga kita, katakan keluarga kita yang berkecukupan ini sudah sukses, harmonis pula. Hubungan orang tua dan anak berjalan selaras, kehangatan keluarga terjalin. Tapi hubungan dengan masyarakat sekitar tidak terlalu baik. Kita kaya, sukses, tetapi terhadap masyarakat sekitar yang tidak seberuntung kita tak acuh. Kita bersenang-senang dengan harta yang melimpah, sementara masyarakat yang hidup berdampingan dengan kita mau makan saja susah. Jangankan untuk memberdayakan dan memberi manfaat, untuk sekedar memberi senyum tulus saja tidak kita lakukan. Kalau ini yang terjadi, bukan tidak mungkin keluarga kita dicap sebagai keluarga yang sombong, kurang berempati dan tak peduli terhadap penderitaan orang lain. Akibatnya, bukannya cinta yang kita dapatkan, justru cemooh, omongan bernada miring, dan tak jarang pula tangan-tangan usil yang mengusik kebahagiaan keluarga kita. Bukan rahasia lagi jika kesenjangan sosial menimbulkan iri dengki di kalangan masyarakat yang berujung pada tindakan kriminal. Apa ini yang disebut bahagia?

Nah, idealnya, kesuksesan yang kita raih juga harus dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain, orang-orang di sekitar kita. Inilah yang disebut Pak Jamil Azzaini sebagai sukses mulia. Kesuksesan hidup yang ditandai dengan harta, tahta, kata dan cinta sekaligus memanfaatkan keempat potensi itu untuk memberi seluas-luas manfaat bagi orang lain. Sukses tak hanya milik sendiri, karena boleh jadi kesuksesan kita berasal dari dukungan orang-orang di sekitar kita. Lihatlah para artis yang setelah memenangkan suatu award, pasti mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para penggemar setianya. Karena tanpa penggemar, takkan ada artis. Begitupun, tanpa orang miskin (berkekurangan), takkan ada orang kaya (berkecukupan).

Itulah sekelumit yang bisa saya tuliskan dari acara launching Gerakan Satu Orang Satu (SOS) yang dipelopori oleh PT Kubik Kreasi Sisilain sebagai salah satu lembaga training motivasi dan pengembangan diri dengan pionir Pak Jamil Azzaini, Pak Indrawan Nugroho, dan Pak Farid Poniman. Gerakan yang juga merupakan gerakan lanjutan dari Gerakan Sukses Mulia yang sukses menginspirasi ribuan pengusaha sukses di Indonesia untuk tidak hanya mencita-citakan kesuksesan dalam usahanya, tetapi juga kemuliaan dalam hidupnya ini diluncurkan pada tanggal 7 Juli 2011 di Citywalk Sudirman. Saya menghadiri acara ini bersama salah satu teman, Adhin namanya. Jujur saya baru pertama kali datang di acara yang sebagian besar dihadiri oleh ratusan pengusaha dan pakar lintas sektoral yang telah sukses di bidangnya masing-masing.

Acara tersebut semakin membuka mata saya bahwa kesuksesan memang harus selaras dengan kemuliaan. Oleh karenanya, gerakan SOS ini menerjemahkan kemanfaatan yang harus diberikan pada orang lain dalam wujud “dapat satu beri satu” yang maksudnya setiap kita mendapat satu kebaikan dari orang lain, kita juga harus memberikan satu kebaikan pada orang yang lain lagi. Contohnya, lembaga training Kubik yang disebut di atas sebagai penggagas gerakan SOS, menerapkan prinsip SOS dengan memberikan satu tiket training gratis kepada satu orang kurang mampu setiap mereka mendapat satu peserta training berbayar. Kemudian, ada butik busana muslimah Shaniyya yang memberikan satu baju kepada anak tidak mampu setiap kali berhasil menjual satu produk gamisnya. Contoh lain lagi, pengusaha beras Andalucia, setiap satu kilogram berasnya sukses terjual, mereka memberi makan satu keluarga dhuafa selama satu hari.

Memang contoh-contoh di atas masih dalam tataran bisnis atau dunia usaha, yang sedikit banyak selalu diidentikkan dengan kata sukses. Namun, bukan berarti kita yang bukan pengusaha, atau belum menjadi pengusaha merasa belum sukses sehingga tidak perlu menerapkan gerakan SOS ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Manusia memang tidak pernah puas, sehingga selalu terbersit fikiran di otaknya untuk menunda kebaikan. Ah, nanti saja kalau mau bantu orang, nunggu kalau sudah jadi pengusaha. Begitu berhasil menjadi pengusaha, mikir lagi. Ah, nanti bantu orang kalau udah jadi pengusaha kaya, yang omsetnya milyaran. Begitu menjadi pengusaha beromset milyaran, mau bantu orang menunggu lagi jika omset perusahaannya mencapai trilyunan. Ya, memang begitulah manusia. Semoga kita semua tidak termasuk di dalamnya.

Untuk itulah, sekecil apapun kebaikan yang kita dapatkan, berusahalah untuk membaginya juga untuk orang lain. Tidak harus menunggu jadi pengusaha dulu untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Dalam ranah profesi apapun, kita tetap bisa berbuat baik, memberdayakan, dan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Karyawan contohnya, jika mendapat gaji atau bonus dari perusahaan, sisihkan minimal sepuluh persennya untuk orang lain. Pelajar/mahasiswa, yang mungkin belum punya pendapatan, bisa membagikan ilmu yang dia dapatkan di sekolah/kampus untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Jikapun kita ini luar biasa miskinnya, sehingga tidak mampu memberikan manfaat dari harta atau tahta, kita bisa berkontribusi dari senyum yang tulus, bantuan yang ikhlas, juga tenaga dan fikiran. Bukannya malah menjadi beban masyarakat dengan deret tindak kriminal dan kekerasan yang kita buat.

Namun yang perlu diingat, jangan pernah merasa miskin, tidak punya apa-apa, sehingga tidak merasa perlu untuk berbagi. Mulai dari sekarang, ubah mindset, dari meminta menjadi memberi, peduli dan berbagi. Percayalah, jika semua orang menerapkan gerakan SOS, yang setiap mendapat satu kebaikan, berusaha membagikan kebaikan yang sama pada orang lain, tingkat kemiskinan di negara kita bisa berkurang. Saat ini, menurut data Asian Development Bank, ada 136.2 juta rakyat miskin di Indonesia, dan jumlah itu bisa berkurang jika setiap kita menerapkan gerakan SOS dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebagaimana sabda Rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Marilah setiap kita bersegera merealisasikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: