mumpung belum terlambat

Senin malam, 11 Juli 2011 mungkin menjadi hari tersedih bagi salah satu sahabat yang baru saya kenal beberapa bulan yang lalu karena kami sama-sama diterima di suatu departemen meskipun berbeda penempatan. Dia di Yogyakarta, sedangkan saya di Jakarta. Pada hari itu dia kehilangan salah satu orang terpenting dalam hidupnya, ayahnya. Sang ayah meninggal dalam usia yang belum terlalu tua, 58 tahun. Tanpa sakit, tanpa pesan, pergi begitu saja setelah beberapa saat sebelumnya kelelahan bermain badminton. Semoga Allah swt menerima amal ibadah beliau, amiin. Berita duka ini tentu membuat saya terkejut, dan tercenung. Betapa maut adalah benar, rahasia sekaligus hak prerogatif Allah untuk menentukan kapan waktunya.

Saya jadi ingat resensi novel Tentang Dia yang ditulis oleh Moammar Emka yang menyebutkan bahwa ada dua hal besar dalam hidup ini, yakni cinta dan kematian. Ketika kita siap menerima keduanya, berarti kita siap menghadapi apa saja. Dalam konteks ini, saya akan lebih banyak berbicara tentang yang kedua: siap menghadapi kematian. Kematian yang harus siap kita hadapi ada dua macam, yakni kematian diri kita sendiri dan kematian orang-orang yang kita cintai.

Dulu saya sering berfikir, betapa saya sangaaaat tidak siap sekali menghadapi kematian orang-orang yang saya sayangi. Sampai saya berdoa pada Allah: matikanlah aku dulu ya Allah, daripada aku harus melihat orang-orang yang kusayangi meninggal. Dulu saya takuut sekali ditinggalkan eyang putri yang kini telah menjadi almarhumah. Pernah suatu malam saya terbangun karena mimpi buruk gigi tanggal, seharian saya gelisah sampai saya menemui yang ti dan memastikan beliau baik-baik saja. Tapi kalau difikir-fikir lagi, sudahkah saya siap menghadapi kematian saya sendiri? Jawabannya tentu tidak. Dari dulu sampai sekarang, saya tetap tidak siap menghadapi kematian, baik kematian saya sendiri maupun orang-orang yang saya sayangi.

Kematian itu pasti. Niscaya. Tiap-tiap yang berjiwa pasti merasakan mati. Siap atau tidak siap, hal itu pasti terjadi. Entah itu lima tahun lagi, tiga bulan lagi, atau beberapa menit lagi yang tidak bisa kita perkirakan. Salah satu cara agar siap menghadapi kematian adalah dengan menyadari bahwa kematian adalah satu-satunya cara kita bertemu dengan pencipta kita. Tapi tetap sajaa, bayangan kematian begitu menakutkan di benak saya sampai sekarang. Ketakutan ini bagi saya, tetap bernilai positif, karena dengan takut mati, ingat bahwa kematian bisa menghampiri kapan saja, kita jadi hati-hati dalam bertindak. Hati-hati agar jangan sampai kita dalam kondisi berbuat dosa jika sewaktu-waktu Allah memanggil kita lewat pintu kematian. Sudah seharusnya kematian menjadi reminder agar setiap kita senantisa melakukan yang terbaik dalam ibadah maupun amal.

Nah, terkait menghadapi kematian orang-orang yang kita sayangi, persiapannya kurang lebih sama, tetapi perbuatan terbaik itu kita tujukan untuk orang-orang yang kita sayangi: orang tua, suami/istri, saudara, sahabat, tetangga, teman. Jangan sampai kita menyesal karena pernah berbuat buruk pada mereka, menyakiti hati mereka, dan belum sempat minta maaf serta mendapat maaf dari mereka karena sudah keburu meninggal. Na’udzu billahi min dzalik. Jadi, sebelum melakukan hal buruk yang mungkin memuaskan diri kita sesaat, fikir lagi, apakah ini menyakitkan bagi orang lain, dan meninggalkan penyesalan terdalam jika yang bersangkutan meninggal dunia tanpa kita sempat meminta maaf.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada orang tua saya, dua orang yang luar biasa baik, menyayangi saya tanpa syarat, mengkhawatirkan saya, dan segala apa yang mereka lakukan – meskipun saya kadang kurang nyaman – adalah ekspresi sayang mereka terhadap saya. Jujur, saya sering sekali merasa jengkel karena mereka sering sekali menelepon, mengSMS, menelepon berkali-kali jika sekali waktu saya tidak sadar ketika ditelepon, yah, seakan ‘memonitor’ kegiatan saya. Tapi hari ini saya sungguh menyesal, saya kerap kali marah, menjawab dengan tidak ramah, malas-malasan, dan lain-lain ekspresi tak suka. Kini saya ingin lebih sabar, lebih bisa mengendalikan emosi, menginsafi bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk ekspresi cinta mereka. Saya ingin berbakti, berbuat baik, membuat mereka bahagia, di dunia maupun di akhirat. Mumpung masih diberi kesempatan. Mumpung, saya masih bisa berbuat baik pada mereka. Mumpung, mereka masih bisa merasakan perbuatan-perbuatan baik yang saya lakukan.

Namun jika kedua orang tua kita sudah meninggal, bagaimana cara kita berbuat baik pada mereka? Ada empat cara yang bisa dilakukan, yaitu antara lain:
1. mendoakan mereka
2. bersedekah atas nama mereka
3. bersilaturrahim dengan sahabat/kerabat mereka semasa hidup
4. menghajikan mereka/badal haji

Semoga kita masih diberi kesempatan untuk meminta maaf, berbakti dan berbuat baik pada kedua orang tua kita. Jangan sampai hidup kita dipenuhi dengan penyesalan yang tidak akan tertebus sepanjang hayat kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: