bicara pada kertas (1)

Hanya pandangan dua detik dan berhasil membuatku memikirkannya berjam-jam kemudian. Senyumnya yang santun segera membungkam tawa liarku. Tatapannya hanya sekilas menyapu wajahku yang kata banyak orang lebih dari lumayan ini. Walaupun hanya sekilas, aku tau, ada perasaan bersalah di dalamnya sehingga ia buru-buru beralih pandang.

Hey, sedikitpun dia tidak tampan, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terpana. Kharisma atau apalah namanya mungkin. Dan yang paling membuatku masih mengenangnya hingga belum bisa tidur di malam selarut ini, suara merdunya saat menggemakan azan maghrib di masjid kantorku.

Biasanya aku lebih suka shalat di mushala lantaiku. Tapi tadi sore, setelah menemani Dani mengirim wesel untuk keluarganya, dia mengajakku shalat berjama’ah di Masjid As Salam dan disanalah aku melihat sosoknya. Siapa dia? Yang jelas belum pernah kulihat sebelumnya. Wajah itu memancarkan keteduhan yang luar biasa.

Kurasa aku mulai jatuh cinta. Kosa kata yang cukup aneh – tentu saja hanya bagiku. Bagi wanita seusiaku, jatuh cinta sudah bukan lagi masanya. Fase yang lebih tepat mungkin kemapanan hidup bersama suami dan anak-anak. Ya, usiaku kini menginjak tiga puluh dua. Dan sampai kini belum kutemukan pria yang mampu mengisi relung-relung hatiku. Bukannya tak laku, kurasa aku yang terlalu selektif dalam urusan pasangan hidup. Aku tak tau apa yang membuatku bersikap demikian. Kata orang, menemukan jodoh itu seperti merasa kesetrum, dan sampai saat ini belum pernah ada laki-laki yang berhasil menyetrumku. Tapi maghrib tadi, perasaan itu lebih dari sengatan listrik ratusan ribu volt. Aku benar-benar jatuh cinta. Cinta di awal tiga puluh, seperti judul salah satu novel favoritku.

Sejak mencintai lelaki misterius yang hanya bisa kutemui di masjid kantor, aku merasa begitu hidup. Hmm, jujur dari lubuk hati terdalam, baru pertama kali ini aku jatuh cinta. Selama ini memang cukup banyak pria yang datang, namun tak pernah kuberi kejelasan pada mereka, semua menggantung tanpa kepastian. Hingga akhirnya mereka bosan, dan meninggalkanku sendiri. Rata-rata dari mereka kini sudah hidup bahagia bersama anak-istri.

Sudah banyak teman yang mencoba mencarikan, namun aku tetap bergeming. Bagiku, takkan ada komitmen sebelum hati ini benar-benar mantap. Aku memang seorang perasa yang sangat mengandalkan hati dalam setiap keputusan yang kubuat. Tapi kali ini, aku sungguh jatuh cinta. Dan ini baru pertama kali di sepanjang hidupku yang memang sudah tak muda ini. Siapakah pria beruntung itu?

(Bersambung)

5 Comments »

  1. blackmimi said

    aaaah, g bisa sama sekali nulis fiksi TT

    • adhin said

      aku kira ini beneran kamu🙂
      latihan riz,,semangaaat!

  2. blackmimi said

    koyone ak emang ga terlalu tertarik mengembangkan fiksi deh dhin, imajinasinya kurang. tapi kalau menikmati fiksi ya seneng banget, hehehe

  3. ki….serius…apik ki..!!kowe iso cerita dengan penataan kata – kata yang lebih terstruktur…lanjutkan kiki…!!!

  4. blackmimi said

    thanks for reading, ndi.. tunggu kelanjutannya *nek ra mentok, hehehe

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: