sepotong kisah di jalan pulang

Ternyata, ungkapan “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri” itu sama sekali nggak berlaku di sini. Di sebuah jalan tak terlalu lebar di selatan Jakarta. Jalan Masjid namanya. Di jalan inilah aku bertempat tinggal, menyewa sepetak kamar kos yang juga tak terlalu lebar. Namun nyaman, setidaknya itulah yang membuatku selalu ingin pulang ketika rehat dari aktivitas prajab yang ‘mengungkungku’ sepekan ini.

Kali ini aku akan menceritakan kisah nyataku, teman-teman. Kisah yang mungkin sedikit berlebihan. Tapi aku harus menceritakannya. Kisah tentang kebaikan hati, ketulusan, dan indahnya tolong-menolong di negeri, atau kota, yang menurut pandanganku, penuh dengan orang-orang apatis dan memikirkan diri sendiri.

Sore menjelang malam itu, aku pulang dari lokasi diklat prajab di kawasan lebak bulus. Sendirian, karena teman-temanku lebih memilih menghabiskan malam minggunya di asrama. Setelah membeli beberapa barang kebutuhan di carrefour lebak bulus, aku menyetop taksi tercepat yang lewat. Aku mengatakan tujuanku, Blok A. Bapak sopir mengemudikan taksinya dengan hati-hati. Seperti yang sudah-sudah, kalau sedang naik taksi sendiri, aku lebih suka mendengarkan cerita bapak sopir daripada menceritakan kisahku pada bapak sopir. Bagiku selalu saja ada yang menarik dan bisa dipetik dari perjalanan hidup seseorang. Dari bapak sopir ini aku belajar sesuatu: lakukan apa yang benar-benar kita cintai dan kita minati.

Singkat cerita, sampailah aku ke tempat tujuanku. Di depan swalayan dekat gang masuk kosku bapak sopir taksi menurunkanku. Sengaja aku tidak turun di depan gang kos karena aku memang ingin membeli pulsa dulu di kios sepanjang jalan menuju kos. Di tengah perjalanan, aku mencari-cari handphoneku. Di tas tidak ada. Di tas belanjaan carrefour di mana aku juga meletakkan dompet, nihil juga. Kukeluarkan seluruh isi ranselku *lebay* tetap saja nggak ada.

Dalam kepanikan, aku bertanya pada bapak berwajah oriental yang sedang ‘nongkrong’ tak jauh dari tempatku berdiri kebingungan. Kutanya wartel terdekat. Bapak itu malah balik tanya “mau telepon siapa?” Agak kesal juga kujawab “mau cari hp pak, hp saya ketinggalan di taksi”. Dan bapak itu buru-buru mengangsurkan handphone-nya. Katanya “nih, pake hpku aja, cari wartel sekarang susah”. Awalnya aku menolak *biasalah nggak enakan* tapi ini masalah hidup dan mati, jadi kuterima saja tawaran baik itu. Sepasang suami istri yang ikut ‘nongkrong’ bersama bapak oriental itu juga ikut menanggapi. Saran mereka, lebih baik menghubungi nomor telepon taksi dulu baru menghubungi handphoneku. Takutnya kalau belum lapor taksi, dan taksi itu keburu ada penumpang, handphoneku raib. Tak perlu pikir panjang, kuikuti saran itu.

Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai kronologi kejadian pada operator taksi, aku disuruh menunggu. Perlu dicatat, nomor telepon yang kuberikan pada operator taksi untuk menghubungiku kembali adalah nomor esia si bapak oriental yang belakangan kuketahui bernama Koh Rahman itu. Aku sebenarnya nggak enak juga, nelepon agak lama dengan menggunakan handphone orang yang sama sekali belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi bapak itu memaksa dan bilang “alah, sesama esia kan gratis, ngomong aja sepuasnya”. Sambil menunggu pihak taksi menghubungiku kembali, bapak yang tadi menyarankanku menghubungi taksi dulu kembali menyarankanku untuk mencoba menelepun handphoneku. Kuturuti juga. Dan ternyata….

Kurasakan ada yang bergetar di belakang punggungku. Seperti getaran handphone. Ya, dan itu handphoneku yang kusinyalir tertinggal di taksi!! Ternyata handphoneku tadi masuk ke tas paling dalam, sehingga luput dari perhatianku saat aksi penggeledahan isi tas tadi kulakukan. Ya Allaaaah, betapa cerobohnya saya!!

Dengan perasaan campur aduk: seneng, geli, lega, tapi juga malu, aku lalu teriak kegirangan. Buru-buru aku minta maaf pada tiga warga yang mungkin merasa terganggu dengan sikap sok hebohku tadi. Dengan tergesa pula kutelepon ulang pihak taksi – tentu masih menggunakan handphone esia Koh Rahman. Dasar nggak modal, handphone udah ketemu, masiiih aja pinjem punya orang!!

Hmmm, lewat tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Koh Rahman, beserta sebuah keluarga yang tinggal di rumah sebelahnya. Sikap simpatik kalian benar-benar membuatku merasa di kotaku sendiri, Jogja tercinta yang terkenal keramahannya. Dengan tingginya kepedulian yang kalian tunjukkan, untuk pertama kalinya aku sama sekali tidak ingin mencela kota Jakarta. Aku senang hidup di sini. Aku bahagia menjadi salah satu bagian dari kota terpadat di seluruh Indonesia ini.

Teman-teman, ternyata memang hanya kebaikan yang mampu meluluhkan hati seseorang. Melunakkan segala tingkah laku, meredakan amarah, melegakan kepanikan. Dan dengan peristiwa ‘kecil’ seperti itu saja bisa mengubah persepsi seseorang terhadap sesuatu, dari yang dulunya antipati menjadi simpati. Kini aku tak lagi menganggap Jakarta itu jahat. Tak kupungkiri, di Jakarta memang banyak orang jahat. Tapi tentu tidak untuk warga penghuni permukiman yang jauh dari label real estate ini.

2 Comments »

  1. Elin Pike said

    cuapek dech. but glad u finally ‘love’ jkt. jakarta emang okeh

  2. blackmimi said

    hehehe, tidak seoke kampung halaman saya tapi🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: