me and you versus internet

Siang itu di ruang makan sebuah keluarga. Terdengarlah dialog sepasang ibu dan anak. Mama Wendy dan Kanya. Kanya adalah putri tunggal Mama Wendy yang masih berumur sembilan tahun.

Kanya (K): Ma, tau nggak sih, si Dora hapenya baru, blackberry, trus Kanya kapan dibeliin Ma?

Mama Wendy (MW): (mengusap rambut Kanya) Hmm, Kanya pengen punya handphone kayak punya Dora?

K: Yaa, kadang pengen juga sih Ma, habis kayaknya enak, tiap hari dia chattiiing terus, nggak tau sama siapa

MW: Lho, emang Bu Guru nggak tau? Kalau tau kan bisa dimarahin, sayang. Masak main hape di kelas

K: Ya kadang dimarahin juga, Ma. Pernah hapenya Dora disita, baru dibalikin pas jam pelajaran selesai

MW: Tuu kan, Kanya mau kayak gitu? Nanti Bu Guru yang biasanya baik sama Kanya jadi galak lho

K: Enggak mau ah, Ma. Kanya mendingan kayak gini aja. Nggak punya hape tapi temen Kanya banyak. Pulang sekolah bisa sepedaan sama main petak umpet, hari Minggu main-main ke pantai, malem-malem bisa belajar komputer sama Papa, liburan dengerin cerita Eyang. Daripada si Dora, kecil-kecil udah pakai kaca mata. Temennya di sekolah cuma sama si Erin. Kerjaannya pegang hapeeee terus. Di rumah juga cuma main komputer aja, jadi nggak bisa caranya main dakon deh

Mendengar celoteh Kanya, Mama Wendy hanya tersenyum. Dalam hatinya berbunga. Dia merasa tak salah asuh. Anak semata wayangnya tumbuh tanpa terjebak oleh perkembangan teknologi yang kadang membuat penggunanya terlena. Memang di satu sisi, teknologi sungguh memudahkan. Seakan membuat yang jauh terasa dekat. Namun tanpa disadari, hal itu sekaligus menjauhkan yang dekat.

Dan itu yang sama sekali tak diinginkan Mama Wendy. Mama Wendy hanya ingin Kanya tumbuh menjadi gadis yang sederhana, juga bisa memanfaatkan teknologi dengan optimal. Bukannya terlalu larut bahkan menjadi budak teknologi. Bisa-bisa dia melupakan serunya sepedaan dan main petak umpet bersama teman-teman sebayanya. Lebih gawat lagi kalau Kanya kini tak lagi menikmati eksotisme pepasir pantai dekat tempat tinggal mereka. Dan tentang cerita-cerita Eyang? Mungkin dianggap tidak menarik oleh Kanya jika dia terlalu dalam menjelajahi internet dan kroni-kroninya.

Kini Mama Wendy hanya bisa tersenyum dan memeluk sulungnya yang kebingungan tiba-tiba dipeluk-peluk. Dada Mama Wendy buncah oleh kebanggaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: