just writing

3 Agustus 2009 14:42 – catatan harianku

Writing is my passion. Jiah, sombong banget ya! Kayak yang udah jadi penulis terkenal aja, hehe. Tapi emang bener kok. Walopun kapabilitas menulis saya sama sekali belum pernah dibuktikan dengan diterbitkannya buku-buku karya saya, keikutsertaan saya sebagai peserta lomba menulis cerpen, novel, ato karya ilmiah di berbagai tingkat, ato bahkan dengan dimuatnya tulisan saya di sekedar media terbitan lokal yogyakarta, saya tetap beranggapan demikian. I looooooooooove writing, so much.

Hal ini bermula dari kegemaran saya menulis diary. Memang saya bukan tipikal remaja yang dipenuhi cerita-cerita seru seputar cinta dan sejenisnya. Diary saya jaman sekolah sama sekali jauh dari kesan full color of love, malah sebagian besar berisi keluh kesah karena kelamaan menjomblo dan mengidap sindrom cinta tak terbalas. Namun di balik itu semua, saya suka sekali membaca-baca ulang tulisan saya yang penuh rintihan dan pesimisme itu. Ternyata, saya berbakat menulis juga ya?!😛

Saya akui saya memang kurang terampil dalam berkomunikasi secara verbal. Hal ini saya sadari sejak dulu, sejak masih duduk di bangku SD. Waktu itu, kalo disuruh maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan, menyanyi, ato presentasi, saya selalu gugup. Keringat dingin selalu mengucur di setiap titik saluran keringat saya, akibatnya telapak tangan-kaki-ketiak saya selalu basah oleh keringat yang muncul tanpa diundang itu. Sebenarnya malu juga sih. Selain itu, jika disuruh mengungkapkan pendapat secara lisan, saya sering bingung dan seakan tidak punya jawaban. Hal ini membuat saya terkesan pasif dan tidak cerdas – terutama dalam bidang-bidang yang memerlukan kemampuan berkomunikasi, such as: presenter, moderator, announcer di radio, dan sebagainya. Ini juga berlaku dalam keseharian saya lho! Misalnya jika saya ingin menasehati seorang teman, sebenarnya di otak terlintas suatu nasehat A, tapi dalam penyampaiannya kadang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan otak. Walhasil, teman tersebut jadi meragukan kebenaran atas apa yang saya katakan. Sedih juga sih, menyadari saya tidak pandai mempengaruhi dan meyakinkan orang lain dengan bahasa lisan. Yang lebih menyakitkan, seorang penjual siomay dekat rumah, menganggap saya kurang bisa diajak bicara hanya karena sering telat menjawab dan terkesan tidak tanggap dengan pertanyaannya. Memang saya sering kelamaan mikir, itulah sebabnya teman-teman saya menjuluki saya sebagai telmiyem, rizki telmi, dan julukan-julukan lain yang intinya bilang kalo saya lola alias telmi.

Awalnya saya merasa kecewa dengan keterbatasan ini, tapi lama-lama, kenapa harus menyesali kekurangan dan tidak melihat aspek lain yang bisa menjadi kelebihan saya? Menulis misalnya.

Dalam mengungkapkan gagasan secara nonverbal alias lewat tulisan, saya merasa cukup baik. Hal itu terlihat dalam mengerjakan soal-soal esai bergenre sosial – bukan eksak – yang menuntut pemikiran dan nalar, berpendapat secara tertulis, mengerjakan paper ato laporan penelitian, nilai saya hampir selalu memuaskan. Selain itu, kalo saya lagi kesel, bete, ato nggak mood, saya selalu ingin mengungkapkan kegelisahan saya lewat tulisan. Dengan mengekspresikan segala bentuk perasaan saya, entah itu sedih maupun gembira, biasanya saya akan menemukan sedikit pencerahan. Rasa sedih, kecewa, bad mood, bisa sembuh bahkan sebelum saya selesai menuliskannya dalam sebentuk file. Jika sudah selesai menuliskan, rasa itu sekejap hilang dan digantikan dengan perasaan yang lebih baik, terinspirasi, dan bersemangat. Apakah semua orang yang habis menulis juga merasakan hal yang sama? Entahlah, yang jelas saya merasa lebih cerdas waktu menulis daripada waktu berbicara. Dalam melakukan curhat juga begitu. Kadang saya merasa kurang plong, karena masih ada perasaan malu dan takut. Ini bukan berarti saya kurang percaya dengan orang yang saya ajak curhat lho! Tapi lebih karena saya takut isi curhatan saya tidak pantas diceritakan hingga akhirnya membuat saya malu. Perlu diketahui bahwa saya sulit sekali bersikap jujur dan terbuka, bahkan pada orang yang sudah sangat dekat dengan saya. Namun anehnya, ketika curhat lewat surat ato sms, saya merasa lebih jujur dan terbuka dengan diri saya sendiri. Saya merasa lebih bebas berekspresi and totally be myself if i say anything with writing. Itulah sebabnya saya sangat menyukai bidang ini, terlepas bahwa saya sama sekali belum pernah menorehkan prestasi dalam bidang tulis-menulis.

Bagi saya menulis lebih dari sebuah passion. Dia adalah kebutuhan, yang akan menjadikan saya lebih baik, lebih mampu mengaktualisasi diri, merasa lebih nyaman dengan diri saya, bebas berekspresi seluas-luasnya tanpa belenggu dan limitasi. Jujur saja, kadang menulis juga tidak semudah yang saya ungkapkan di atas. Kadang jemari saya bisa bebas menari di atas keyboard dan tak terasa belasan lembar tulisan bisa saya selesaikan dalam hitungan jam hingga membuat saya tidak percaya dengan dahsyatnya kemampuan saya. Tapi ada kalanya saya kehilangan minat terhadapnya. Tiba-tiba saya merasa stuck, tanpa bisa bergerak untuk merangkai kata menjadi kalimat. Hilang ide, nggak mood melanjutkan, sampai akhirnya tulisan saya stop dan urung saya selesaikan. Kadang ide sudah menari-nari di otak, tapi untuk menuliskan, rasanya berat sekali. Hal ini wajar, dan tentu pernah dialami semua penulis. Karena tidak mungkin segala sesuatu di dunia ini berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Berbekal keyakinan itu, tiap kali saya merasa ragu, takut, gentar, malas, dan kehilangan selera untuk menulis lagi, saya bisa segera bangkit dan seperti menemukan energi kembali. Bahwa menulis lebih dari sekedar passion, hidup mati saya, dan saya sangat antusias terhadapnya.

Hmm. Saya juga mengakui, saya bukan orang puitis yang pandai menuliskan gagasan dengan cara-cara yang indah dan romantis. Semua yang saya tuliskan berisi kejujuran dan kemurnian, tanpa filter-filter yang bisa memperindah maupun memperburuk tulisan saya. Maka, jika ditanya ciri khas, saya ini tipe penulis jujur yang berciri khas polos dan tidak neko-neko. Kadang tulisan saya bisa keluar layaknya remaja yang full of bahasa gaul, kadang resmi seperti buku teks, malah kadang saya campur-baur seenak perut saya. Saya juga nggak tau kenapa bisa begitu.

Yang jelas, saya telah mantap untuk menggali lebih dalam seluk-beluk dunia penulisan dan kemudian menjadi seorang penulis ber-genre motivation ato self help, yang akan menginspirasikan banyak orang yang membaca tulisan saya. Dan untuk itu, saya harus siap dengan segala konsekuensi dan tanggung jawab, di antaranya: mengikuti berbagai workshop dan seminar kepenulisan, bergabung dalam forum kepenulisan, berguru pada penulis-penulis yang telah lebih dulu sukses untuk menimba ilmu, rela menulis berjam-jam di depan komputer sampe mata perih dan bokong pegal, mau mempublikasikan tulisan-tulisan saya baik di hadapan orang yang bisa memberi kritik dan masukan, notes di facebook, maupun di blog saya, berani malu mengirimkan dan memperjuangkan karya-karya saya di hadapan penerbit, rela dianggap sebagai sosok nerd dan introvert (kadang penulis distereotipkan seperti itu), rela mengalami defisit karena honor menulis kadang tidak pasti, dan berbagai konsekuensi lain yang belum bisa saya perkirakan mengingat saya belum jadi a real writer. Tapi semoga saja saya selalu bersemangat dengan semua itu dan apapun yang merintangi jalan saya tetap membuat saya setia dan tidak membuat mundur dari cita-cita ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: