selamat jalan, ustadzah..

Pagi tadi ketika membuka twitter, aku dikejutkan dengan timeline-timeline dari mereka yang aku follow, diantaranya @salimafillah dan @anismatta yang nge-tweet bahwa ustadzah Yoyoh Yusroh, salah satu anggota Komisi I DPR dari FPKS wafat karena kecelakaan tunggal di jalan tol Tegal-Brebes, Sabtu (21/05) pukul 3.30 dini hari. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Aku memang sedikit pun nggak kenal beliau: ustadzah, ibu dari 13 putra/putri yang di antaranya adalah hafidz quran, salah satu pelopor gerakan da’wah tarbiyah di Indonesia. Tapi tak urung berita duka tersebut membuatku meneteskan air mata. Aku sedih, dunia da’wah kembali kehilangan salah satu insan terbaiknya. Bukan hanya dunia da’wah. Bahkan seluruh dunia, kembali kehilangan salah satu manusianya yang baik. Aku memang bukan aktivis da’wah, sama sekali bukan. Tapi aku begitu mengagumi mereka yang berkecimpung di dalam aktivitas tersebut.

Ya Allah, yang lebih membuatku sedih, adalah karena beliau meninggal dalam perjalanan kembali ke Jakarta, selepas menghadiri wisuda putra pertamanya yang kuliah di UGM, Kamis lalu. Kayak apa ya, perasaan Umar, putra beliau itu, ketika pertama kali mendengar berita duka tersebut??

Tapi aku yakin, dia pasti bahagia. Berarti ibundanya telah lebih dulu menjemput syahidnya, lebih cepat bertemu dengan Allah yang pasti sangat dirindukannya. Dan pasti takdir ini terbaik bagi keluarga mereka. Insyaallah beliau termasuk orang yang disayangi Allah, amiiin.

Sosok ustadzah Yoyoh memang sama sekali belum kukenal. Bertemu dengan beliau sekalipun belum pernah. Bahkan aku juga belum pernah melihat foto beliau. Aku hanya pernah membaca nama beliau di sampul belakang buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim-nya Salim A. Fillah, di sana beliau memberi komentar terhadap isi buku tersebut. Penjelasannya adalah: Yoyoh Yusroh (ibu dari 13 putra, anggota DPR RI). Selain itu, cerita yang pernah kudengar dari mbak mentoringku, adalah bahwa beliau adalah ibu dari para hafidz quran. Dan beliau juga orang yang sangat tersentuh mendengar bahwa di Palestina, semua anak menjadi penjaga dari Al Quran – di tengah konflik berkepanjangan yang diderita negeri mereka. Makanya beliau bercita-cita agar di Indonesia, negeri yang aman sentosa ini, akan lebih banyak lagi putra-putri yang akan menjadi hafidz quran.

Setelah mendengar kabar duka itu, aku langsung browsing internet. Mencari segala yang berhubungan dengan beliau. Ternyata beliau adalah salah satu generasi pertama gerakan da’wah di Indonesia. Keaktifannya di organisasi dan LSM Islam adalah semata-mata untuk amar ma’ruf nahi munkar. Dan beliau juga salah satu anggota dewan yang ‘bersih’, sama sekali tidak terlibat money politic. Salah satu berita yang kubaca, yaitu begini: ketika beliau bersama anggota DPR yang lain sedang meninjau salah satu proyek, pihak proyek menceritakan bahwa mereka sedang kekurangan dana. Tetapi anehnya ketika pulang, mereka malah menjamu ustadzah Yoyoh beserta rombongan di sebuah tempat makan yang representatif. Selain itu, sesampainya di bandara mereka malah diberi ‘amplop.’ Sang ustadzah terkejut lalu bertanya: apa ini? Dijawab mereka: ini tanda cinta dari kamu, karena ibu telah meninjau proyek kami. Kemudian sang ustadzah menolaknya dan berkata: untuk apa ini?? Katanya kalian sedang kekurangan dana?? Kami sudah berkecukupan. Akhirnya ‘amplop’ tersebut dikembalikan, disumbangkan ke lembaga proyek mereka, dan untuk menghindari kesalahpahaman, beliau juga meminta kwitansinya. Begitulah, kejujuran yang di zaman sekarang sudah langka sekali.

Kekagumanku terhadap beliau bertambah lagi dengan cara beliau mendidik ketigabelas putra-putrinya hingga dapat menjadi hafidz quran, di tengah padatnya aktivitas da’wah dan organisasi yang beliau geluti. Yaitu antara lain dengan mengembangkan pola komunikasi dialogis sehingga putra-putri beliau dapat berkembang sesuai potensinya, menanamkan tanggung jawab kepada anak-anaknya (anak pertama bertanggung jawab terhadap anak kelima, anak kedua bertanggung jawab kepada anak keenam, begitu seterusnya), juga menanamkan kesadaran pada diri putra-putrinya dengan bahasa sederhana bahwa aktivitas da’wah yang beliau lakukan yang membuat beliau sering sekali keluar rumah adalah untuk kebaikan: agar orang-orang mau shalat, agar orang-orang jadi baik, dan agar orang-orang tidak berantem. Dan ini poin pentingnya, yaitu mengajarkan kepada putra-putri beliau untuk berkonsentrasi pada Al Quran selama bulan Ramadhan, sehingga pada bukan suci tersebut: TV off.

Subhanallah, begitulah kehidupan seorang yang di dunia ini tak sekedar hadir, tapi mewarnai, memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, berbuat baik, berda’wah, berjuang di jalan Allah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah, ditinggikan derajatnya bersama orang-orang shalih lain, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang abadi, amiin.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa aafihii wa’fu’anhaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: