terbanglah, kupu-kupu…

Pertengahan Mei. Detik-detik menjelang wisuda sarjana Universitas Gadjah Mada periode 3.

Mumpung beberapa hari lagi ada wisuda kampus nih, saya mau nulis yang ada hubungannya sama wisuda ah, biar kesannya up to date, hehehe.
Wisuda. Graduation. Lulusan, atau apapun namanya selalu meninggalkan dilema yang bagai mata pisau. Ada senang ada sedih. Ada lega ada khawatir. Ada bangga ada bimbang. Ya gimana enggak, di satu sisi, wisuda menawarkan kebahagiaan tiada tara bagi semua mahasiswa tingkat akhir yang akhirnya bebas dari jeratan skripsi berbulan bahkan bertahun sebelumnya, kelegaan yang terpancar jelas di senyum sumringah mereka karena berhasil mewujudkan cita-cita orang tua yang sudah jauh-jauh menyekolahkan *buat mahasiswa perantauan, dan kebanggan juga prestise tersendiri karena telah sukses menjadi sarjana, gelar akademis yang diimpikan semua mahasiswa. Tau sendiri kan?? Jadi sarjana itu nggak gampang-gampang banget lho, apalagi kalo udah berurusan sama skripsi.

Selain itu, kebahagiaan di hari wisuda juga semakin lengkap dengan kehadiran keluarga dan sahabat-sahabat yang berkumpul untuk mengucapkan selamat. Bayangin, diselametin aja udah seneng, apalagi kalo dikasih bunga atau coklat, hehehe. Namun di sisi lain, ada juga bayangan kesedihan. Ya sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang udah berjuang bersama selama sekitar 4 taunan, terus sedih juga karena nggak lama lagi akan meninggalkan kota tempat menuntut ilmunya selama ini *apalagi yang pada punya tambatan hati di sana tuh, hehehe. Terus yang paling nggak enak nih, ada bayangan ketakutan dan kekhawatiran:

Setelah Kuliah Mau Ngapain??

Ada banyak pilihan yang bisa dilakukan para fresh graduate ini: cari kerja, berwirausaha, melanjutkan S2, menikah, dan beragam alternatif lain.

Bagi wisudawan/wisudawati yang dulunya aktif di kampus dengan aneka kegiatan kemahasiswaan dan punya link di mana-mana, mungkin akan melangkah menuju masa depan dengan sedikit lebih pede dibandingkan dengan wisudawan/wisudawati yang dulunya di kampus terkenal dengan sebutan kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang). Bekal CV tebal dan pengalaman organisasi seabrek, dijamin bakal meningkatkan confidence untuk memasuki dunia kerja yang kebanyakan mensyaratkan para jobseeker-nya berpengalaman atau minimal aktif berorganisasi di kampus maupun di luar kampus. Memang bukan syarat mutlak, tapi kadang-kadang di requirements yang tercantum di bursa lowongan kerja, “mampu bekerjasama dengan baik dalam tim” menjadi syarat yang harus dipenuhi. Dan salah satu faktor yang menunjukkan kapabilitas kerjasama dengan baik adalah dengan pengalaman organisasi dan kepanitiaan segudang.

Oleh sebab itu, stigma “buat apa IPK cumlaude tapi pengalaman organisasi nol besar?? Cuma jadi pengangguran” ngetop banget ditujukan untuk para sarjana yang dulunya kupu-kupu itu. Dan efeknya luar biasa, akan menambah penyesalan bagi mereka yang memang sudah terlanjur menerjunkan diri sebagai kupu-kupu. Biar gimanapun, masa lalu nggak akan pernah kembali lagi, dan menyesali yang sudah terjadi sama sekali bukan pilihan bijaksana, nggak akan bisa merubah yang sudah terjadi. Penyesalan ini tentunya juga akan menurunkan self esteem para jobseeker kupu-kupu itu. Merasa nggak berarti dan selalu gagal akan menghantui terutama jika mereka berkali-kali melamar tapi selalu gagal di sesi wawancara karena ketidakpercayadirian mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan organisasi.

Kondisi seperti itu semakin membuat miris, apalagi masih minimnya bacaan-bacaan yang mengupas pemecahan masalah yang menghantui mahasiswa kupu-kupu. Sementara buku yang beredar di pasaran lebih banyak membahas seputar tips dan trik menjadi mahasiswa sukses, mahasiswa plus yang nggak hanya mengenal 3K: kampus, kost, dan kantin (baca: tempat makan). Oleh karena itu, mereka yang sudah kadung nyemplung dalam lembah kupu-kupu semakin termarginalkan, semakin nggak ada kesempatan untuk melepas predikat pengangguran mereka. Kalau hal ini dibiarkan, tentu nggak baik bagi mereka.

Oleh karena itu, tulisan ini saya buat. Para mahasiswa kupu-kupu harus keluar dari tempurung mereka, terbang, dan menyandang predikat orang sukses. Karena, lepas dari apapun pekerjaan saya sekarang, saya tetap mahasiswa yang dulunya kupu-kupu *makanya ngerasa senasib sepenganggungan, hehehe. Jadi, sekarang pake kata ‘kita’ aja ya, biar lebih asoy.

Selama ini kesuksesan sering diidentikkan dengan keberhasilan bekerja di perusahaan atau instansi ternama dan bereputasi baik dengan gaji besar. Itulah sebabnya, kita, para fresh graduate yang nggak kunjung dapat pekerjaan sering minder dan merasa ‘kecil’ karena hanya menjadi pengangguran. Padahal nggak selamanya begitu kan? Kalaupun kita belum diterima kerja di manapun – apalagi yang sesuai dengan background pendidikan kita – bukannya kita bisa melakukan kegiatan lain yang tentunya produktif: bermanfaat dan menghasilkan bagi kita (juga orang-orang di sekitar kita). Apa aja sih tips dan triknya biar tetap produktif walaupun berpredikat: mantan mahasiswa kupu-kupu dan menjadi sarjana yang (masih) pengangguran? Lets check this out.

1. Do a business
Mungkin sudah banyak buku yang mengupas rupa-rupa cara dan pengalaman berbisnis alias berwirausaha mulai dari nol sampai sukses. Mulai dari yang sukses dijalankan oleh ibu rumah tangga sampai para karyawan korban PHK. Dari yang begitu banyak itulah, pilihan berbisnis menjadi pilihan nomor satu bagi kita yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Sebenernya saya juga belum boleh bicara banyak soal ini sih, mengingat saya sampai detik ini belum juga berbisnis, meskipun saya juga mencita-citakannya.

Ada beberapa tips dan trik untuk memulai bisnis (saya membacanya dari berbagai sumber), yakni:

Bulatkan tekad dan mantapkan tujuan, tujuan ini haruslah yang jelas, terarah, yang benar-benar bisa menggetarkan hati dan mendegupkan jantung ketika kita membayangkannya, membuat kita sangat antusias untuk meraihnya, tujuan harus perkara hidup dan mati agar kita tidak mudah menyerah saat godaan untuk berhenti datang menghampiri. Selain itu, dengan tujuan yang benar akan membuat kita rela mengorbankan kesenangan kita demai meraih tujuan tersebut.

Lebih baik lagi, kalu tujuan kita ini bermanfaat bagi orang banyak, motivasi kita untuk segera bangkit dari keterpurukan juga makin kuat. Misalnya: dengan tujuan untuk membantu anak-anak yang hobi membaca tetapi tidak punya cukup uang untuk membeli buku, kita bisa mendirikan perpusatakaan, rumah baca, atau toko buku murah-meriah yang tidak hanya mengejar keuntungan tetapi lebih dari itu, dapat mencerdaskan anak bangsa *halah

Pilihlah bidang yang benar-benar kita cintai, karena cintalah yang menguatkan kita di saat godaan untuk menyerah datang bertubi-tubi. Bekerja dengan cinta juga membuat kita dengan senang hati dan tanpa terpaksa melakukan berbagai cara dan inovasi – yang halal tentunya – untuk memajukan bisnis kita. Beda lho, menjalani bisnis yang memang menjadi passion kita dengan bisnis yang cuma ikut-ikutan atau bukan bidang yang kita sukai.

Pilihlah bidang yang kita kuasai, dengan bekal kemampuan yang memadai, akan menghemat waktu dan biaya dibandingkan dengan berbisnis pada bidang yang benar-benar baru bagi kita. Makanya sangat disarankan untuk menggali hobi kita, baik hobi masa lalu maupun hobi yang sampai sekarang masih sering kita lakukan. Hal ini juga untuk menentukan dimana sebenarnya passion kita.

Jangan hanya ikut-ikutan, kadang-kadang kita berpikir ingin buka usaha yang sudah banyak dilakukan oleh mereka yang lebih dulu sukses, jadi usahanya sama persis. Padahal belum tentu usaha itu sesuai dengan minat dan bakat kita, alias passion kita bukan di situ. Kasus lain lagi, pilih usaha yang sepertinya gampang, nggak ribet, yang seolah-olah ‘melegalkan’ penangangan yang setengah-setengah. Padahal usaha apapun, haruslah dilakukan sepenuh hati, bahkan menggunakan upaya 150% jika ingin sukses.

Jadi saran saya – eh, sebenarnya bukan murni dari saya, karena saya membacanya dari salah satu buku Pak Jamil – untuk mulai berbisnis, gali bidang-bidang yang kita sukai, kita kuasai, dan kita pikir akan potensial untuk menghasilkan (produktif).

Oiya, sebelum berbisnis, ketiadaan modal sering menjadi alasan bagi kita untuk tak segera memulai berkecimpung di dalamnya. Tetapi sebenarnya pengahalang utama kita adalah rasa takut yang kita selalu kita pelihara. Takut gagal dan takut bangkrut. Padahal jika tujuan bisnis kita benar, jelas dan terarah, tak perlu ragu!! Lawan semua ketakutan itu, buktikan bahwa kita memang benar-benar bisa menjalankannya. Bersikaplah seperti bayi yang baru belajar berjalan, yang tanpa dihantui ketakutan akan jatuh. Nyatanya, ketika dia dewasa dan bisa berjalan, semua orang tak akan lagi mengingat ‘kejatuhan-kejatuhannya’ bukan??

2. Take a short course
Dewasa ini, untuk dapat bertahan sekaligus meraih kesuksesan dalam hidup tak cukup jika hanya mengandalkan kemampuan akademik saja, karena belum tentu kita akan bekerja pada bidang-bidang yang sesuai dengan background pendidikan kita. Hal yang juga sangat kuno jika kita masih mempercayai bahwa tingkat kesuksesan seseorang diukur dari IQ atau tingkat intelegensinya.

Berbekal dari statement tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui dan mempelajari segala sesuatu di luar spesialisasi atau latar belakang pendidikan kita. Inilah yang disebut soft skill. Keterampilan yang dimaksud meliputi: keterampilan berwirausaha, keterampilan berbicara di depan umum, keterampilan memimpin, keterampilan spesifik seperti memasak, menjahit, membuat kerajinan, menulis,mendesain, komputer, bahasa asing, serta apapun yang nantinya akan menunjang kehidupan kita.

Saat ini banyak peluang bisnis muncul dari keterampilan-keterampilan yang mungkin kita anggap kecil dan remeh, seperti: membuat boneka dan aneka hiasan dari kain flanel, kain perca, bahkan kertas bekas!!
Memang sekilas remeh, tetapi kalau ditelateni, bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan lho! Kalau nggak percaya, tengok aja Rumah Warna, salah satu usaha kerajinan dari bahan flanel yang banyak digemari cewek-cewek abg karena produknya yang lucu-lucu dan colorful. Bahkan kini, omset bisnis ini sudah mencapai milyaran rupiah dan sudah buka cabang di mana-mana.

Kalau yang deket-deket saya nih, salah satu teman, berbekal keterampilannya membuat boneka dari kain flanel lalu memasarkannya via online, bisa mencukupi kebutuhannya karena bisnisnya menghasilkan keuntungan yang berbilang tujuh digit (baca: jutaan rupiah).

Untuk bergerak dalam bisnis ini, memang butuh keterampilan yang mumpuni. Oleh karenanya, jika kita berminat tetapi keterampilan kita belum memadai, jangan ragu ikut kursus.

3. Class of personality development
Kadang-kadang di zaman serba sulit seperti sekarang, di mana mencari pekerjaan bukan merupakan hal yang sama sekali mudah, kata-kata “pengangguran” yang kerap dilontarkan sebagian orang kepada kita, sudah cukup membuat kita minder setengah mati, atau bahkan frustasi. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut akan membahayakan self esteem kita. makanya perlu bagi kita yang punya kepercayaan diri yang tidak terlalu tinggi untuk mengikuti seminar atau training berkait motivasi atau pengembangan kepribadian. Saat ini sudah banyak training yang diperuntukkan bagi pribadi atau perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas serta kebahagiaan hidup para pesertanya. Peserta training diharapkan akan memiliki rasa percaya diri yang jauh lebih besar, sikap dan pandangan yang jauh lebih positif terhadap kehidupan, plus semangat hidup yang jauh lebih tinggi.

Nah, biasanya seminar atau training semacam ini memang membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sekali pertemuan saja bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Bayangkan, orang yang sudah punya pekerjaan alias karyawan saja, biasanya ikut training semacam ini mengandalkan ‘gratisan’ dari perusahaannya, bagaimana kita yang ‘cuma’ pengangguran, yang terang-terang belum punya penghasilan tetap?? Darimana kita bisa dapat duit untuk membiayai investasinya yang selangit??

Tenang, biasanya contact person training-training tersebut punya beberapa free pass ticket buat kita yang bener-bener tertarik untuk bergabung. Tinggal pinter-pinternya kita ngerayu mereka aja. Saya aja udah dua kali dapet kesempatan ikut training salah satu lembaga training di Jakarta kok, hehehe. Eh, tapi tips ini juga nggak valid-valid banget lho. Yang pasti validnya sih: baca aja buku-buku motivasi karya trainer-trainer yang memang sudah ahli dalam memotivasi seseorang untuk meraih hidup yang lebih baik. Kalau di Indonesia sih, baca aja karyanya Pak Jamil Azzaini atau Satria Hadi Lubis. Buku-buku selfhelp ini, jika benar-benar kita praktekkan, insya Allah manfaatnya nggak kalah oke sama ikut training secara langsung. Nah, kalau menurut kita baca buku aja tetep ngeluarin kocek yang cukup lumayan, just visit www.jamilazzaini.com atau www.trustcotraining.wordpress.com atau kalau versi bahasa Inggris ya www.pickthebrain.com untuk mendapatkan motivasi dan semangat hidup yang membakar!! *malah promosi

Nah, kalau udah mendapatkan ilmu dari seminar, training, baca buku, atau buka website-website berikut, selain berusaha menerapkannya, juga usahakan agar kita bisa membagikannya ke orang-orang terdekat kita. Bisa cerita langsung, sharing lewat account social networking kita, atau menuliskan dengan gaya kita sendiri di blog kita. Dengan begitu, selain menyebarkan ilmu, kita jadi merasa hidup ini ada manfaatnya dan nggak sia-sia. Bukannya berbagi juga salah satu cara mewujudkan kebahagiaan??

4. Kurangi idealisme
Banyak dari kita yang nggak kunjung mendapatkan pekerjaan karena kita terlalu selektif, entah itu harus sesuai dengan background pendidikan kita, gajinya nggak sesuai dengan ekspektasi kita, kerjaannya terlalu nyantai atau bahkan terlalu underpressure, prospeknya kurang menjanjikan, jenjang karir nggak jelas, lokasinya terlalu jauh dari rumah sehingga nggak impas sama biaya transportnya, dan sederet ketidakpuasan yang menggiring kita pada penolakan suatu pekerjaan yang sebenarnya telah datang pada kita. Ketika sampai pada tahap ini, alangkah baiknya jika kita bersikap nrimo saja pada apa yang sudah di depan mata kita, sepanjang masih halal. Idealisme kita pada hal-hal yang kurang prinsipil sebaiknya dikurangi, karena boleh jadi pada saat ini pekerjaan tersebut yang terbaik bagi kita, dan siapa tau, jalan kesuksesan kita harus lewat pintu tersebut.

Atau kalau kita memang bener-bener nggak suka sama pekerjaan itu dan yakin bahwa pekerjaan itu sama sekali nggak bisa dinikmati, seperti tips pertama, mendingan beralihlah ke satu bidang yang sungguh-sungguh kita cintai dan kuasai, dimana passion kita ada di dalamnya, sehingga kita sama sekali nggak underpressure dalam melakukannya. Bahkan, ketika melakukannya, kita sama sekali nggak merasa seperti bekerja. Bayangkan, betapa nikmatnya. Sudah melakukan pekerjaan yang kita sukai, dibayar pula untuk itu!!

Makanya, sudah waktunya bagi kita, mahasiswa kupu-kupu, keluarlah dari sarang kita yang nyaman, terbanglah dengan gagah berani, karena keindahan dunia hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang berani 

5 Comments »

  1. […] akan dikomentari oleh Mbak Asma dan Pak Isa. Saya mengirimkan salah satu judul dalam blog ini yakni terbanglah kupu-kupu dan mendapat komentar juga dari Mbak Asma. Menurut Mbak Asma, bahasa yang saya gunakan sudah […]

  2. heri said

    sukses bukan saat digaji besar, tapi saat bisa menggaji besar

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: