Di Balik Dekapan Ukhuwah #Part 2

Assalamu alaikum, halo, selamat pagi, selamat hari Jumat yang penuh barokah🙂

Sesuai dengan janji saya pada posting terdahulu, kali ini saya kembali menceritakan ulang salah satu buku favorit saya, Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah. Setelah kemarin membahas tentang Tanah Gersang yang notabene berupa sikap dan perilaku yang potensial merenggangkan ukhuwah, kali ini chapter yang saya bahas yakni Sebening Prasangka, di mana ianya akan menyuburkan ukhuwah.

Untuk mewujudkan ukhuwah yang hangat dan akrab dengan sesama manusia, segalanya memang harus dimulai dengan apa yang disebut khusnudhan, baik sangka. Itulah mengapa ada ungkapan populer don’t judge a book by its cover atau jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya, jangan terlalu cepat menghakimi sebelum kita mengenal orang tersebut dengan baik. Nah, dalam hubungan antar sesama manusia saja khusnudhan harus selalu dihadirkan, apalagi dalam hubungan manusia dengan Rabb-nya, baik sangka yang kita hadirkan harus berlipat-lipat. Baik sangka yang dimaksud termasuk dalam keterhijaban doa-doa yang kita panjatkan. Berikut ini ada satu kisah yang tercantum dalam tulisan Akh Salim berjudul Keterhijaban dan Baik Sangka.

Seorang yang rajin ibadah dan beramal mendadak menggugat Tuhannya, Allah, dia protes dan kecewa, kenapa doa-doanya selama ini belum ada yang terkabul satupun. Malam-malamnya tidak pernah dia lewatkan tanpa shalat malam. Hari Senin dan Kamisnya selalu diisi dengan puasa sunnah. Setiap kali dia mendapat penghasilan, separuhnya langsung ia sodaqohkan kepada yang mereka yang kurang berkecukupan. Namun hingga sekarang, dia merasa Allah tidak pernah mendengarkan doanya, memperhatikan amalannya. Dia merasa Allah sungguh tidak adil, sementara orang-orang di sekitarnya, yang amalnya kurang, jarang shalat, malas sodaqoh, sekali berdoa langsung dikabulkan keinginannya. Mereka semua hidup enak dan terlihat bahagia. Beda dengan dirinya, yang ternyata masih ada perasaan sedih, resah, dan gelisah. Lalu ia mengadukan semua itu kepada sahabatnya.

Sahabatnya bukannya memberi solusi, dia hanya tersenyum dan malah balik bertanya, “Apa yang kamu lakukan kalau di depanmu berdiri seorang pengamen dekil, bau, suaranya nggak karu-karuan, memekakkan telinga, yang lalu menadahkan topinya, memintamu memberi sedikit uang??” Si pengadu menjawab, “Langsung buru-buru tak kasih uang, biar dia segera pergi dari hadapanku, nggak minta-minta lagi”. Sang sahabat tersenyum, lalu melanjutkan pertanyaan, “Nah, kalau di depanmu berdiri pengamen berpenampilan rapi dan simpatik, membawakan lagu merdu merayu, diiringi gitar dan biola yang keduanya berpadu harmonis, dan yang dinyanyikan lagu favoritmu??”. Dijawab oleh si pengadu, “Akan kunikmati permainannya, kudengarkan dengan seksama hingga lagu yang dibawakannya usai, bahkan aku memintanya menampilkan permainannya lagi, dan lagi. Setelah itu baru kuberi uang yang banyak.”

Sahabat itu tersenyum lebih lebar dan barulah ia menjawab keluhan sahabatnya, “Begitulah Allah menyikapi doa-doamu. Dia tahu bahwa kau hamba yang taat, rajin ibadah dan beramal. Oleh karenanya, Dia sungguh menikmati doa-doa yang kau panjatkan, puji-puji yang kau lantunkan, amal ibadah yang kau lakukan, Dia ingin terus-menerus dipuja hamba-Nya hingga tak ingin puji-pujian itu berakhir seiring terkabulnya doa-doamu. Dia menunggu waktu yang sangat tepat hingga akhirnya jika nikmat-nikmatnya tercurah kepadamu, doa-doamu terkabulkan, akan membuatmu jauh lebih bersyukur, bukan melupakan-Nya. Dia sedang menguji keimananmu. Dia….” Belum sempat sang sahabat menjelaskan lebih lanjut, si pengadu kemudian beristighfar, lalu tersenyum jauh lebih cerah, melebihi cerah senyum sang sahabat.

Begitulah. Khusnudhan, baik sangka, harus selalu kita hadirkan dalam hubungan kita dengan Allah. Karena Allah sesuai persangkaan hamba-Nya. Jika seorang hamba berprasangka baik terhadap Allah, maka yang baik itulah yang benar-benar terjadi. Begitupun sebaliknya jika seorang hamba selalu berprasangka buruk terhadap Allah, memang yang buruk itu yang nyata terjadi padanya. Semoga ita semua selalu menjadi hamba-hamba yang senantiasa khusnudhan terhadap-Nya, amiiiin.

Yaudah deh, dari saya sekian dulu ya. Kapan-kapan kita lanjut lagi ‘bedah buku’nya. Wassalamu alaikum🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: