Di Balik Dekapan Ukhuwah #Part 1

Assalamu alaikum, halo loha, selamat sore Nusantara🙂

Di sore yang cerah ini saya mau share several lessons dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Akh Salim A. Fillah yang sedang saya baca. Namanya juga masih dalam proses, jadi buku setebal 472 halaman ini belum saya tamatkan. Tapi baru baca sekitar 100-an halaman saja sudah bikin saya tergerak menyebarkannya pada khalayak ramai, halah. Waah, isinya subhanallah sekali, dahsyat! Bikin saya jadi malu dan kesindirlah pokoknya.

Dalam salah satu chapter buku ini, Tanah Gersang, Akh Salim sedikit menyindir kita, terutama saya,  tentang beberapa perilaku yang sebisa mungkin harus dihindari demi kokohnya ukhuwah secara universal. Kesemua  perilaku tersebut terangkum dalam beberapa judul tulisan,  tetapi ada 5 judul yang paling memukau saya, yakni: Iman yang Tak Sendiri, Paku dan Palu, Landak Menebar Duri, Kisah tentang Luka, dan sebuah puisi bertajuk Yang Manakah Engkau.  Oke, lebih baik saya ceritakan saja ya, hikmah-hikmah yang sungguh mencerahkan itu.

Iman yang Tak Sendiri

Seringkali  kita berfikir, menganggap bahwa dengan iman yang kokoh, amal atau akhlaq terhadap sesama juga akan mulia. Berasumsi bahwa dengan hablumminallah yang baik, otomatis hablumminannas akan mengikuti. Ternyata belum tentu. Layaknya sebatang pohon, begitu menurut Akh Salim dalam tulisannya, iman adalah akar, batang, dan daun. Sementara amal laiknya bunga dan bebuahan. Pupuk dan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuhnya akar dan daun tidak akan sama dengan gizi yang diperlukan untuk memekarkan bunga dan bertumbuhnya buah. Akar itu tersembunyi, menancap di dalam tanah, sedangkan bunga dan buah harus tampil keluar, menunggu dimanfaatkan makhluk-makhluk lain di sekitarnya. Begitu pula iman, memang mestinya tersembunyi, tanpa perlu di-riya’-kan, tetapi haruslah terwujud dalam amal dan akhlaq yang mulia, agar kehadirannya dapat menjadi manfaat bagi sesama. Karenanya, keduanya harus diusahakan. Mengusahakan hubungan yang baik dengan Allah dengan tidak mengesampingkan hubungan baik dengan sesama manusia. Karena apalah gunanya iman yang tertancap kokoh dalam hati, tapi untuk bersosialisasi saja enggan. Kesadaran untuk peduli, berbagi, dan berempati rendah. Lantas, di manakah iman jika manifestasi dan kemanfaatannya tidak bisa dirasakan sesama kita??

Paku dan Palu

Judul ini diawali dengan salah satu sabda Rasulullah, “Katakan yang benar, meskipun pahit”. Namun terkadang, kalimat mulia ini disalahpersepsikan oleh sebagian besar kalangan. Kepahitan, dalam konteks sabda Nabi tersebut, tentu bagi yang mengatakan. Sama sekali bukan bagi yang mendengar. Namun kita, seringkali menafsirkan menjadi: katakan kebenaran, meskipun pahit bagi para pendengar kebenaran itu. Kalau begitu, kiranya sabda Nabi berubah menjadi, “Dengarkan yang benar, meskipun pahit”. Nah, orang-orang yang gemar mengatakan hal yang benar meskipun terdengar pahit di telinga orang-orang di sekitarnya inilah yang disebut sang pemegang palu. Orang yang hanya memiliki palu, selalu menganggap segala hal di sekitarnya sebagai paku.

Ada 4 ciri-ciri pemegang palu, di antaranya:

    1. berbicara atau bertindak tanpa mengerti kondisi yang sebenarnya, sehingga seringkali salah merespon sesuatu
    2. suka mengungkit masa lalu – terutama kesalahan orang dan kebaikan diri sendiri
    3. memperburuk keadaan dengan memberikan reaksi yang berlebihan
    4. lebih mementingkan situasi daripada hubungan: biasanya menyukai perdebatan untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang benar, tidak peduli walaupun itu akan menyakiti atau mempermalukan lawan bicaranya

Nah, kini saatnya bercermin. Apakah salah satu atau kesemua ciri sang pemegang palu itu ada pada diri kita??

Landak Menebar Duri

Duri yang dimiliki landak tidak akan menyakiti hewan-hewan di sekitarnya. Duri pada landak hanya berfungsi sebagai media perlindungan diri apabila sang landak berada dalam bahaya. Lain halnya jika duri-duri tersebut sengaja ditebarkan untuk menyakiti makhluk di sekitarnya. Ternyata memang ada jenis landak penebar duri di dunia ini, seperti halnya ada jenis manusia yang kegemarannya menyakiti manusia-manusia lain.

Manusia yang memiliki sifat penebar duri ini suka menyakiti, berusaha membuat dirinya kelihatan, merasa dirinya lebih baik dengan membuat orang lain terlihat lebih buruk. Mereka juga suka mengecilkan orang lain, menyampaikan kelemahan-kelemahan yang ada pada seseorang dan membuatnya percaya bahwa dia tak punya kebaikan. Para penyebar duri seolah tercipta untuk mengahalangi orang yang ingin maju, memupuskan mimpi-mimpi, mencemooh upaya-upaya rintisan dan menyebut hal tersebut sebagai sebuah kesia-siaan. Hal ini karena mereka tidak suka pada cita-cita tinggi dan benci pada orang-orang yang mengajak manusia untuk memperbaiki diri.

Dalam kehidupannya, para penebar duri ini tak pernah mempesona bagi siapapun. Salah satu contohnya adalah Abu Lahab, paman Rasulullah yang malah menentang da’wah dan perjuangan beliau. Maukah kita mengisi hidup dengan sifat-sifat landak penebar duri ini?? Jangan jadikan pilihan kalau tidak ingin hidup kita berjalan dan berakhir dengan kehinaan sunyi.

Kisah tentang Luka

menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah

terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri

jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita

tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya??

Tulisan ini dibuka dengan sebait kalimat yang cukup menohok saya. Bagaimanapun, saya sering merasa seperti itu. Merasa diri saya sebagai korban keadaan dan ketidaknyamanan atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar saya. Sesuatu, dan juga orang-orang di dalamnya. Orang-orang seperti saya inilah yang mungkin disebut Akh Salim sebagai orang-orang terluka. Luka yang dirasakan oleh orang-orang seperti ini bukan berasal dari luar, melainkan dari perasaan mereka sendiri yang selalu merasa menjadi korban. Meskipun begitu, orang terluka tidak pernah berusaha menyembuhkan lukanya. Mencari sumber permasalahan dan berusaha membasminya. Mereka menikmati sendiri kesakitan itu, hingga akhirnya bertambah parah, sampai sedikit saja gangguan yang datang dari luar akan menambah parah hingga memborokkan luka mereka.

Seperti apa ciri orang-orang terluka?? Mereka enggan berubah, seperti yang telah disinggung sebelumnya: mereka enggan mengobati, menyembuhkan lukanya, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya. Karenanya mereka tidak terlalu suka membahas persoalan. Selain itu, mereka juga sulit menerima kegagalan: semua ketidakberesan dalam hidupnya yang sebenarnya bersumber dari lukanya tidak disikapi sebagai pelajaran berharga. Mereka selalu menemukan orang, pihak, kelompok, benda, atau apapun yang menurut mereka telah menjadi penyebab masalah. Orang terluka juga tak terlalu suka belajar dari orang lain, enggan bertindak, tak bersemangat melakukan sesuatu untuk mengahadapi dan memecahkan masalahnya. Itu semua karena dia menganggap semua masalah bukan salahnya.

Pada awalnya, orang terluka akan menjadi pengecut, tanda-tandanya seperti orang munafiq, tetapi dengan tambahan: jika berembug maka menjilat, dan jika bertengkar tindakannya melampaui batas. Hal ini karena mereka menanggapi di luar batas kewajaran, melebih-lebihkan, dan bertindak dengan rasa terancam yang begitu tinggi. Di saat lain, orang terluka juga selalu menjadi pengeluh – pada sesama manusia. Padahal, dalam Islam, sangat dianjurkan mengeluh hanya kepada Allah.

Inginkah kita selamanya menjadi orang yang terluka?? Maka berubahlah, terimalah kegagalan dengan lapang dada, selesaikan masalah dengan dewasa, belajarlah dari orang lain, hindarkanlah diri dari kepengecutan, dan mengeluhlah hanya kepada Allah. Satu-satunya sumber penyelesaian masalah.

Yang Manakah Engkau

yang aku tahu

ada dua jenis manusia di bumi ini

hanya ada dua, sungguh, tak lebih

bukan pendosa dan orang suci, karena lazimnya

sulit mencari kebajikan yang murni, ataupun

kejahatan yang sama sekali tak berbelas kasih

bukan yang kaya dan yang miskin, sebab

untuk membedakan keduanya kita harus tahu

kelimpahan nurani dan kesehatannya

bukan yang rendah hati dan si sombong diri

karena sepanjang kehidupan, siapapun yang sombong

takkan lagi dianggap sebagai manusia

bukan yang bahagia dan yang bersedih hati

karena tahun-tahun yang lewat, membawakan tawa

silih berganti dengan duka bagi tiap manusia

tidak,

dua macam manusia yang kita bicarakan adalah

mereka yang mengangkat dan mereka yang membebani

dengan kedua jenis ini kita berjumpa, ke manapun kita pergi

kita bahkan merasa, akan hanya ada seorang pengangkat

untuk tiap duapuluh orang yang membebani

termasuk yang manakah engkau

apakah kau meringankan beban, bagi para pengangkat yang lemah

ataukah engkau seorang penyandar, yang mana sesama kau biarkan

ikut merasakan tanggungan, kekhawatiran, dan masalahmu

atau bahkan engkaukah yang membawakan segala duka dan derita

untuk memberati pundak-pundak mereka

Selarik puisi dari Ella Weller Wilcox dalam Custer and Other Poems yang diterjemahkan bebas oleh Akh Salim ini menghiasi tulisan dengan tajuk Yang Manakah Engkau di atas. Ya, yang manakah kita?? Menohok sekali bukan pertanyaan itu?? Saya jadi tak ingin mengeluh lagi – semoga. Amiiin.

Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat. Besok kita sambung lagi di part keduanya ya. Dadaaaah. Sampai jumpa di postingan mendatang. Wassalamu alaikum🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: