“?” Undercover

Tadi malam (11/4) saya menonton film ‘?’ karya sutradara Hanung Bramantyo. Jujur, sebelumnya saya sama sekali nggak tau kalau film ini kontroversial bahkan menuai protes di kalangan ulama dan para nahdliyin. Khusus mengenai warga NU yang merasa terlukai dengan beberapa penstereotipan dalam film ini, saya tidak akan membahas terlalu dalam, karena saya juga tidak terlalu paham masalah ke-nahdlatul-an.

Disini, saya berbicara sebagai umat Islam dengan pengetahuan agama yang mungkin kurang, bahkan tidak memadai. Karenanya, mohon maaf jika ada kesalahan atau ada pihak yang merasa tidak terima dengan statement saya.

image

Sebagai salah satu bagian dari umat terbesar bangsa ini, saya cukup tersinggung dengan adegan-adegan yang disuguhkan dalam film berdurasi 100 menit ini. Dalam film ini digambarkan bahwa orang-orang yang beragama Islam cenderung memiliki watak yang keras, kasar, anarki, fanatik sempit, nyinyir, bahkan bodoh. Hal ini tergambar dari adegan pertama yang menjadi prolog film di mana telah terjadi penusukan terhadap pastur Albertus yang sedang menyambut jemaatnya di gereja oleh sekelompok pemuda berpakaian preman. Walaupun tidak menunjuk secara langsung, secara tersirat film ini menggiring pada stereotip buruk,  seolah yang suka melakukan tindak anarkis adalah suatu kelompok agama tertentu.

Adegan lain, adalah umat Islam yang digambarkan suka mencela dan sama sekali tidak menghargai suku dan umat agama lain serta menjunjung tinggi prinsip SARA dengan mempelopori penghinaan terhadap Ping Hen (diperankan Rio Dewanto), pemuda keturunan Cina yang terkenal bandel dan suka berbuat onar. Dalam film ini, sekelompok pemuda Islam yang hendak pengajian berpapasan dengan Ping Hen di jalan dan mereka langsung memanggilnya dengan sebutan “Cino!”. Tidak terima dengan panggilan itu, Ping Hen pun membalas mereka dengan umpatan “Teroris! Asu!” dan terjadilah perkelahian sengit di antara mereka. Dari secuplik adegan ini, terlihat bahwa pemicu konflik antarumat beragama adalah umat Islam.

Kemudian, saya kembali tercenung menyimak adegan lain yang tak kalah mendiskreditkan umat Islam, yakni adegan seorang tokoh bernama Ibu Novi (Muslimah berjilbab), pemilik kos yang ditempati oleh Surya (diperankan Agus Kuncoro), perjaka Muslim yang selama ini mengandalkan hidup dari profesi pemain figuran. Ibu Novi digambarkan sebagai tokoh yang cerewet, suka mencampuri urusan orang lain, hobi ber-ghibah, fanatik sempit, dan kurang berempati terhadap kesulitan orang lain. Ada salah satu adegan di mana Ibu Novi hendak mengusir Surya yang sudah terlalu lama nunggak bayar kos. Pengusiran itu bukan hanya sembarang usir, melainkan juga dibumbui dengan kalimat-kalimat mau tau urusan orang sekaligus ketidaksukaan terhadap Surya yang sedang ‘dekat’ dengan Rika (diperankan Endhita), janda beranak satu yang baru saja keluar dari agama Islam (murtad). Beginilah secuplik kalimat pedas Ibu Novi yang dialamatkan kepada Surya, “Kamu pacaran to sama orang murtad itu?” dengan ekspresi melecehkan. Selanjutnya, pelabelan watak fanatik sempit pada umat Islam juga sangat jelas tergambar dari kalimat “Bilangin tuh sama Rika, kalau mau toko bukunya laris, jualan dong buku-buku yang Islami”. Tidak cuma itu, Ibu Novi juga tergambar sebagai muslimah berjilbab yang tidak punya perasaan, karena lontaran kalimat pedas tersebut diucapkan di depan anak kecil, yakni Abi, putra Rika semata wayang.

Selanjutnya, film ini juga secara tersirat ingin menunjukkan bahwa umat Islam memiliki watak buruk: keras, kasar, kurang bisa mengendalikan emosi, sekaligus pencemburu buta. Setidaknya hal ini tercermin dalam karakterisasi peran Soleh (diperankan Reza Rahardian), suami Menuk (diperankan Revalina), seorang Muslim pengangguran yang merasa tidak berguna bagi keluarga, masyarakat, dan juga agamanya. Dalam ketidakberdayannya, Soleh menjadi sering bersikap sinis dan kasar pada istrinya, suka mengamuk, fanatik sempit terhadap agama lain di sekitarnya, dan pencemburu buta lantaran istrinya dulu pernah punya hubungan spesial dengan Ping Hen, yang cinta keduanya terbentur perbedaan agama.

Satu sisi yang menggambarkan kebodohan umat Islam dalam film ini, yang tentunya membuat saya sebagai pemeluknya sakit hati, adalah sikap Menuk yang digambarkan sebagai sosok Muslimah ideal: cantik, shalihah, toleransi dan tenggang rasanya sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain. Toleransi tersebut digambarkan sutradara Hanung Bramantyo dengan bekerjanya Menuk pada restoran chinese food, yang tentunya juga menjual aneka masakan babi, milik Koh Tan (diperankan Hengky Sulaiman), ayah Ping Hen. Dalam film ini Menuk terlihat sangat tulus mengabdi pada restoran yang menjual beberapa menu yang diharamkan dalam Islam. Bahkan ada adegan di mana ada calon pembeli Muslimah (berjilbab) yang akan memesan menu di restoran tersebut. Kurang lebih beginilah suasana dan dialog di antara mereka.

Seorang calon pembeli yang kebetulan adalah Muslimah berjilbab terkejut ketika melihat daftar menu yang ternyata mengandung ‘babi’. Secara terang-terangan, dia langsung mengajak anaknya pindah ke restoran lain, “Dek, ayo jangan makan di sini. Di sini ada babinya.” Secara sigap Menuk lalu mencoba menjelaskan yang sebenarnya agar tidak kehilangan pembeli, “Mbak, di sini nggak cuma jual babi, ada ayam dan sapinya juga kok.” Tetapi sang calon pembeli tetap tidak terpengaruh, “Sama aja, panci dan sendoknya juga bekas babi kan?” Menuk menyanggah, “Enggak mbak, di sini semua peralatannya terpisah.” Mendengar jawaban itu, sang pembeli tetap keukeuh pada pendiriannya, sambil menarik anaknya yang berteriak-teriak, “Maa, tapi aku pengen makan disiniiiiii”. Melihat ini semua Menuk hanya bisa mengelus dada. Roman mukanya mengguratkan kecewa dan putus asa.

Apakah yang dilakukan Menuk ini mulia dan merupakan cermin toleransi tinggi terhadap umat agama lain? Kok bagi saya, ini bukan toleransi melainkan kebodohan. Dan jelas sudah bahwa dia memang kurang mengerti dasar-dasar agama Islam di mana ada larangan tolong-menolong dalam kebathilan. Herannya, tokoh Menuk dianggap tokoh protagonis yang sempurna tanpa cacat cela.

Kebodohan yang jelas tampak sangat bodoh tercium dari adegan Rika yang menawari Surya berperan sebagai Yesus dalam hari raya Paskah di gereja dekat tempat tinggal mereka. Surya, seorang Muslim yang selama ini selalu kebagian peran figuran dalam casting mana pun awalnya ragu dan takut kalau keputusannya menerima tawaran tersebut akan melemahkan aqidahnya selama ini. Dia lalu berkonsultasi dengan seorang ustadz (diperankan David Chalik) yang, ini benar-benar sableng, mengizinkan Surya menerima peran itu dengan pembenaran yang ngawur, “Yang penting di hatimu tetap Islam. Iman itu yang penting dari hati. Kalaupun fisikmu memerankan peran itu, hatimu insyaallah tetap Islam. Tetap istiqamah ya.” Ya Allah, apakah yang dikatakan ustadz itu benar di sisiMu?? Hey, bahkan mengucapkan selamat hari raya pada umat yang berbeda agama dengan kita saja hukumnya haram, apalagi ikut merayakan sambil memerankan peran yang jelas-jelas menjadi Tuhan kaum kafir. Na’udzubillah.

Dan klimaksnya, sungguh membuat saya shock. Yakni adegan umat Islam melakukan tindak anarki dengan pengrusakan, penyerbuan, dan kekerasan di restoran milik Koh Tan, yang dikarenakan kondisi kesehatannya yang memburuk, restoran tersebut akhirnya dikelola oleh Ping Hen. Dalam pengelolaannya, Ping Hen mengubah semua peraturan awal restoran. Yang dulunya benar-benar menghargai umat Islam dengan memasang tirai pada bulan Ramadhan, stop berjualan babi pada bulan Ramadhan, libur lima hari pada hari raya Idul Fitri, menjadi mencopot semua tirai, tetap berjualan babi, dan hanya mengizinkan libur satu hari, yakni pada hari pertama Idul Fitri, untuk para karyawannya. Atas keputusan ini, umat Islam digambarkan mengamuk, menggruduk, melakukan pengrusakan terhadap restoran, PADA HARI RAYA IDUL FITRI!! Bahkan, dalam adegan ekstrim ini, Soleh digambarkan memukul Koh Tan dengan sebatang kayu hingga pingsan bahkan akhirnya menjemput ajal. Sungguh benar-benar kekonyolan yang melukai perasaan umat Islam. Kesannya umat Islam adalah umat yang berwatak keras, kasar, dan senang sekali dengan kerusuhan.

Kesalahan persepsi karena keawaman, atau apapun yang saya tak tahu, juga lahir dari dialog antara Menuk dan Ping Hen dalam suatu malam di bulan Ramadhan menjelang shalat tarawih. Di situ Menuk memohon pada Ping Hen agar dia menghentikan permusuhannya dengan Soleh. Menuk juga mengungkit-ungkit kisah cinta di antara mereka berdua yang dianggapnya anugerah, karena setidaknya mereka pernah dilingkupi cinta dalam perbedaan agama. Masyaallah, cinta antara dua agama yang berbeda dianggap sebagai sebuah anugerah?? Pada akhirnya Menuk memang memilih Soleh yang seiman dengannya, tetapi pernikahan mereka digambarkan kurang bahagia, karena sosok Soleh yang keras dan kasar. Sungguh stereotip pernikahan Islami yang jauh dari sakinah bukan??

Ada lagi unsur kengawuran yang sungguh memprihatinkan dalam film ini. Bisa-bisanya tokoh Rika yang murtad, dianggap sebagai seseorang yang ‘baik’ dan ‘benar’. Juga perlu mendapatkan dukungan. Semua ini terlihat dari dialog antara Rika dan Surya yang saya cuplikkan di bawah ini.

Rika: semua orang membenci saya, saya dianggap mengkhianati Tuhan. saya dianggap mengkhianati keluarga. bahkan abi pun kini nggak mau saya ajak main. lalu kamu juga akan ikut-ikutan memojokkan saya?

Surya: bagi saya, kamu adalah sosok wanita yang hebat, yang berani memperjuangkan apa yang menurut kamu benar, walaupun orang-orang sekitar menyudutkanmu. saya benar-benar salut padamu. kamu tidak pernah mengkhianati Tuhan dan keluarga

Ironisnya, tak seperti tokoh-tokoh yang beragama Islam dalam film ini yang digambarkan berwatak tak terpuji, sosok-sosok nonmuslim seperti Koh Tan yang seorang Budhist, serta Romo (diperankan Dedi Sutomo) dan Doni (diperankan Glenn Fredly) yang beragama Katholik digambarkan sebagai sosok-sosok mulia, penjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Koh Tan, seperti telah disinggung sebelumnya, benar-benar menghargai umat Islam, dengan memberi kebebasan penuh kepada karyawannya yang hendak mengerjakan shalat, meliburkan mereka lima hari pada hari raya Idul Fitri, memisahkan piranti masak antara menu babi dan non babi. Sementara terhadap umat Katholik, dia juga menunjukkan dukungannya dengan ikut berpartisipasi dalam perayaan hari besar mereka. Ah, saya tak ingin bicara banyak, karena saya juga tidak tahu apakah ada aturan di agama mereka soal ini. Sosok Romo juga digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, menghargai perbedaan antarumat beragama. Sementara Doni, lewat kisah-kisah yang diceritakannya kepada Rika, seolah ingin memfatwakan kepada penonton film ini, bahwa agamanya adalah yang paling benar.

Oleh banyak pihak, utamanya ulama dan peneliti Islam, sebutlah KH Cholil Ridwan, Dr Adian Husaini, dan sutradara Islam Chaerul Umam, film ini sangat tidak layak tonton, direkomendasikan untuk dicekal, menggiring kepada kemurtadan, cermin pluralisme secara vulgar, dan aneka predikat lain yang tentunya cukup memerahkan telinga sang sutradara. Saya, dalam konteks ini, tidak hendak berbicara banyak tentang yang terakhir: pluralisme, karena saya tak cukup punya kapasitas membicarakannya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa, pelecehan itu menyakitkan. Apalagi jika yang berbuat adalah saudara sendiri yang seiman. Ya, bukankah saudara Hanung Bramantyo adalah seorang Muslim?? Persetan dengan statement ‘diangkat dari kisah nyata’ yang digemborkan pada prolog film, bagi saya film ini sudah cukup berpotensi melemahkan aqidah saudara-saudara kita, terutama mereka yang pemahaman agamanya masih kurang. Karena film, seperti halnya media massa, akan membentuk opini publik.

Namun film ini, seperti halnya dua sisi mata uang, selain memiliki sisi negatif, juga mengandung sisi positif yang tetap bisa kita ambil pelajaran. Yakni sikap ksatria seorang Soleh, yang di akhir cerita digambarkan menyelamatkan seluruh warga gereja dari sebuah pengeboman pada malam Natal. Soleh, yang menemukan bom waktu di salah satu kaki bangku gereja, segera berlari dengan gagah berani membawa bom waktu tersebut keluar gereja hingga akhirnya dia seorang diri menjemput kematiannya. Semoga apa yang dilakukannya dapat terhitung syahid, karena menyelamatkan ratusan nyawa, meskipun itu bukan saudara seiman. Bagi saya, keberanian serta keuniversalan cinta yang ditunjukkan Soleh tetap dapat menjadi rujukan kepribadian kita sebagai seorang Muslim. Selain itu, bagian lain yang sungguh membuat saya trenyuh adalah dengan masuknya Ping Hen dalam pelukan Islam setelah terjadinya berbagai insiden yang cukup memilukan: kematian ayah dan Soleh, saingan beratnya dalam mendapatkan cinta Menuk.

Bagi saya, walaupun ini hanya sebuah film, tetap harus dicermati seksama. Jangan sampai atas nama pesan moral yang dijunjung tinggi, yakni tentang toleransi, berpotensi mengaburkan aqidah kita. Kalau hanya dijadikan tontonan saja tentu tidak masalah, tetapi kalau dijadikan sebagai rujukan kita bersikap, tunggu dulu. Kita harus hati-hati memilah dan memilih mana yang sesuai dan disyari’atkan-Nya, sebelum ketidaktahuan dan ketidakmautahuan menggiring kita pada murka-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: