lets start with small things

Bulan Januari 2011.  Waktu yang masih cukup fresh untuk memikirkan dan merealisasikan resolusi-resolusi tahunan kita. Jika salah satu atau beberapa orang dari kita memiliki resolusi MENJADI MANUSIA YANG BERMANFAAT BAGI MANUSIA LAIN atau MELAKUKAN SESUATU YANG BERMAKNA, yang notabene merupakan salah satu kunci sukses kebahagiaan, mungkin kita sering berfikir keras, memutar otak “Bagaimana cara menjadi seperti itu, memulai menjadi orang yang bermanfaat, melakukan sesuatu yang berguna?” Memang cukup sulit, tapi kita bisa memulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Menunjukkan kepedulian pada hal-hal yang mungkin luput dari pemikiran orang. Mengasah kepekaan dan empati pada yang dirasakan orang lain.

Melakukan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain, tak harus memimpikan hal-hal yang besar, seperti: mendirikan panti asuhan, mewakafkan tanah untuk membangun tempat ibadah, menyumbang milyaran rupiah untuk peningkatan mutu desa tertinggal. Meskipun hal-hal seperti itu juga harus kita cita-citakan mulai sekarang. Tetapi kalau cara berfikir kita selalu seperti itu, berorientasi pada hal-hal yang besar, kita akan merasa berat dan mustahil melakukannya. Lain halnya jika memulai dari hal-hal kecil, seperti misalnya MEMBANTU MENGEMBANGKAN USAHA YANG TENGAH DIRINTIS ORANG LAIN.

Lagi-lagi saya menemukan kisah ini di KR *kok jadi KR minded gini* tepatnya di rubrik Pikiran Pembaca, Jumat 14 Januari 2011, pada sebuah tulisan berjudul Investasi Akhirat Untuk Membangun Umat. Berikut ini pindaian rurik tersebut.

IMG_thumb[6]

Adalah Bapak Burhani, salah seorang warga dusun Malangjiwan, Bangunharjo, Sewon, Bantul yang  berniat membentuk pelatihan keterampilan — utamanya menjahit — untuk anak-anak putus sekolah di pedukuhannya. Sebuah usaha yang patut diacungi jempol, mengingat di zaman sekarang, di mana kepedulian kepada sesama sudah semakin meluntur, masih ada orang yang memikirkan nasib orang lain di sekitarnya. Namun niat mulia tersebut juga masih terhalang beberapa kendala, utamanya masalah peralatan. Sementara peralatan yang dipunyai Pak Burhani sekarang barulah sebuah mesin jahit yang tentunya tidak memadai untuk digunakan sepuluh anak — sementara ini anak yang akan dibina sebanyak sepuluh orang. Oleh karena itu, Pak Burhani sedikitnya membutuhkan beberapa peralatan, antara lain:

1. Mesin jahit tambahan

2. Meja untuk potong pola

3. Buku-buku keterampilan menjahit

4. Alat tulis

Yang pertama kali terlintas di benak saya sih, pengen menyumbangkan buku-buku keterampilan jahit gitu. Tapi ya masih nanti, nunggu uang terkumpul banyak biar bisa beli buku lumayan banyak. Tapi ternyata, niat ini agak dikritik oleh teman saya yang punya ide lebih baik. Daripada kelamaan nunggu uang terkumpul, mendingan menyurvei lokasi untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di sana dulu. Siapa tahu ada peralatan lain yang lebih mendesak daripada buku-buku itu.

Akhirnya pada hari Minggu, 16 Januari berangkatlah kami menuju rumah Pak Burhani di Dusun Malangjiwan. Setelah ngobrol beberapa lama dengan beliau, ternyata masalah utama yang dihadapi beliau adalah kekurangan mesin jahit dan mesin obras untuk latihan. Sementara untuk tenaga pengajar sudah mencukupi, yakni tiga ‘guru’ untuk sepuluh ‘siswa’.

Oleh karena itu, yang sedang kami usahakan sekarang, adalah pengadaan beberapa mesin jahit tambahan untuk latihan. Saya — tepatnya teman saya deng — kemudian mulai berimajinasi…

Seandainya mesin-mesin jahit itu terkumpul cukup banyak untuk kesepuluh anak yang mau belajar, maka:

  • anak-anak akan dibina oleh pengajar-pengajar profesional dengan ‘kurikulum’ seperti SMK jurusan busana, bahkan S1 Tata Busana sehingga menghasilkan karya yang extraordinary
  • akan diadakan pameran hasil  karya mereka — minimal di tingkat pedukuhan  — untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa anak-anak korban dropout juga bisa punya karya
  • anak-anak putus sekolah bisa memiliki keterampilan setingkat anak-anak yang mengenyam pendidikan SMK jurusan busana, atau bahkan S1 Tata Busana
  • anak-anak putus sekolah akan menjadi pribadi-pribadi yang produktif, karena selain bisa menjahit pakaian untuk dipakainya sendiri, juga bisa dikembangkan sebagai kegiatan usaha bersama
  • kegiatan usaha bersama bisa menghasilkan produk unggulan dari Dusun Malangjiwan, misalnya berupa konfeksi yang desainnya unik dan berbeda dari daerah lain (kalau untuk yang satu ini, perlu pengetahuan desain busana juga)
Mungkin utopis, tapi bukan berarti tidak bisa diraih. Bukankah segalanya bisa menjadi mungkin jika diiringi kesungguhan, man jada wa jadda. Lagian suatu hal besar bermula dari hal-hal kecil seperti ini. Makanya saya memposting tulisan ini, untuk memudahkan teman-teman jika ingin berpartisipasi dalam misi merubah wajah dunia agar sedikit lebih ramah, khususnya kepada anak-anak sudah terputus dari akses mendapatkan pendidikan formal itu. Setidaknya walaupun mereka sudah tidak bisa menikmati sekolah dan kuliah seperti kita – yang sering luput kita syukuri, bisa memperoleh keterampilan yang bahkan tidak kita punyai. Bentuk partisipasi teman-teman bisa berupa apa saja, antara lain:
 
  • peralatan jahit-menjahit, utamanya mesin jahit atau mesin obras yang sudah nggak terpakai dan ikhlas untuk disumbangkan
  • buku-buku keterampilan menjahit, boleh juga berupa printout artikel-artikel dari internet atau kliping koran
  • meja untuk potong pola, mungkin bisa berasal dari kayu atau triplek bekas
  • dana seikhlasnya, tentunya untuk membeli peralatan-peralatan yang masih kurang
  • informasi mengenai penjahit-penjahit yang sekiranya bisa membantu baik dengan ilmu maupun peralatan yang mereka miliki
  • ilmu dan keterampilan, misalnya jika teman-teman pernah ikut kursus jahit, sekolah atau kuliah di jurusan tata busana
  • ide dan saran untuk pengembangan usaha ini, misalnya tentang kurikulum pendidikan, promosi dan marketing jika sudah menghasilkan produk
Sejauh ini sih, kami masih berputar-putar di bagaimana cara mendapatkan peralatan-peralatan (mesin jahit dan mesin obras) yang masih kurang itu?? Dan tulisan ini juga sekaligus salah satu cara yang ditempuh agar teman-teman yang berkeluasan rezeki bersedia membantu menyukseskan usaha ini, hehehe. Di samping melalui media blog, kami juga menggunakan media SMS dan facebook. Sebenarnya sih twitter bisa juga, tapi saya agak kurang mudeng menggunakannya sebagai media promosi. Oiya teman-teman, selain point-point partisipasi yang saya cantumkan di atas, dengan menyebarkan informasi ini pada orang-orang di sekitar teman-teman, syukur-syukur kalau yang diinformasikan adalah pihak-pihak yang sekiranya bisa memberi dukungan moril maupun materiil, berarti teman-teman juga telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam usaha ini. Jadi jangan ragu untuk share ya.
 
Ingat, banyak hal besar bermula dari hal-hal kecil di sekitar kita, hal-hal sering diremehkan orang. Dan siapa tahu, keterlibatan kita pada hal kecil seperti ini, akan membuat wajah dunia yang sudah lama muram, menjadi berseri kembali🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: