bE ON FOCUSED!!!

Malam ini saya kembali menekuri laptop kesayangan di ruangan paling favorit rumah saya, sebuah kamar tidur berukuran 3X3 meter, yang penuh aneka barang: lemari, rak boneka, buku dan majalah, dua meja belajar, rak TV, dan tentu saja dua tumpuk kasur yang dijadikan satu plus dipenuhi bantal, guling, dan boneka2 dari segala ukuran yang tentu saja membuat kamar yang tidak terlalu luas menjadi penuh sesak. Namun tidak masalah, paling tidak di ruangan sempit seperti ini, tidak membuat kreativitas saya ikut menyempit *halah*

Malam minggu di tanggal tua. Bokek berat. Sebenernya pengen nonton mbah surip di kridosono, penasaran sama aksi panggungnya. Tapi apa daya. Pake duit lagi kan?! Sementara duit di dompet tinggal 25ribu, ngepas banget. Mendingan disimpen dulu, siapa tau ada sesuatu yang lebih penting. Jadilah malam minggu ini saya hanya bertemankan laptop – bapak ibu pengajian, icha malem mingguan.

Yaudalah, nulis2 kayaknya jadi obat yang tepat pengusir bete deh! Daripada mantengin henpon yang nggak bunyi2 daritadi kan?! Siapa tau apa yang saya tulis bisa berguna buat kalian semua. Ato kalo boleh dibilang inspiring lah *ngarep banget nih*! Emang saya pengen banget jadi penulis yang bisa menginspirasi para pembaca tulisan saya. Makanya sekarang lagi rajin bikin tulisan yang harapannya nggak cuma dibaca tapi juga bisa dipraktekin dalam kehidupan nyata, sukur2 bisa bikin orang2 laen mraktekin juga dalam kehidupan mereka. Intinya ya menginspirasi tadi. Maklum, saya juga gampang terinspirasi kalo abis baca buku ato dengerin musik yang melambungkan semangat. The books that make me inspired are The Power of Nekat by G.Sembada, Tuhan Inilah Proposal Hidupku by Jamil Azzaini, and 5 cm by Donny Dhirgantara. Trus kalo lagunya, Xpresikan-nya Bondan ft Fade2Black kayaknya pas deh. Walopun udah lagu lama, tapi cocok banget buat orang2 yang butuh semangat dalam menjalani hari2nya. Lets check this lyrics.

Hey kawan, hey teman semua yang mendengarkan.
Ungkapkan rasa cita dalam pelukan.
Bulatkan tekad untuk raih mimpi bertepi.
Sesegar kopi hangat temani warnai pagi.
Mentari senja tetap bersinar di ufuk barat.
Mari susun rencana ke depan kita melesat.
Cepat! Jangan terhambat oleh rasa ragu.
Tambahkan sdikit susu tuk aroma kopi yang baru.
Hey kau!
Jadikanlah dirimu seperti yang kau mau (Just free ur mind and keep it real)..
Hey kau!
Xpresikanlah dirimu seperti yang kau mau (Just free ur mind and keep it real)..
Ini tentang langkah yang kau tentukan.
Cara yang kau pakai tuk mencapai sebuah tujuan.
Apa artinya kaki bila kau tak berjalan.
Apa guna mata bila tak menatap masa depan.
Untuk apa bermimpi, bila kau tak melangkah.
Untuk apa kesempatan bila tak ambil celah.
Persetan aku, dia, juga mereka.

Bulatkan tekad, lalu. Rasakan lah merdeka!!
Free your mind and keep it real.. Just Xpress your self!!
(Xpress your self, much love and respect 4x)
Let’s go! Let’s go! (just express your self).
Commin in.. Commin out.. Don’t hold, let it out.. (just express your self).
Feel the movement, groovement, emotion, lose.. (just express your self).
Everybody come on make a move.. (just express your self).
I got the feeling
That we gonna keep on walking, stepping,
Running till the morning sun is shining.
Just keep it grooving,
Sehingga kerongkongan kering,
Seiring nada berdetak,
Irama menghentak.
Everybody come on sing it, yo.. Yoo.. Come on sing it!!
Free your mind and keep it real.. Just Xpress your self!!
(Xpress your self, much love and respect 4x)

Wah, mantep banget deh, apalagi kalo sambil dengerin lagunya langsung. Serasa semangat bertambah berkali-kali lipat, halah. Lagu ini intinya tentang freedom of mind. Kebebasan dalam bertindak sesuai dengan kata hati. Pokonya kalo udah bisa bebas berekspresi sesuai kata hati tanpa limitasi, wuih, dijamin hasilnya juga nggak tanggung2 deh, mantep pokonya! Tapi ada satu syarat, fokus fokus dan fokus. Kata Bondan: BULATKAN TEKAD, lalu rasakanlah merdeka! Ini juga yang dibahas dalam 3 buku yang jadi inspirasi saya. Intinya kalo seseorang mau sukses, apapun daya upaya kita, harus terfokus pada tujuan. G.Sembada bilang dalam The Power of Nekat, bahwa orang sukses selalu TERARAH PADA TUJUANNYA, tidak memikirkan yang lain, dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk meraih tujuannya – tentu tujuan yang baik dan bermanfaat. Trus menurut Jamil Azzaini dalam Tuhan Inilah Proposal Hidupku, kita harus MENENTUKAN SATU dari berbagai bidang yang akan kita kembangkan menjadi tujuan hidup kita, karena itulah yang nanti akan kita sebut sebagai SEBUAH EXPERT – keahlian. Terakhir, dalam 5 cm yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro, jika kita sudah menetapkan SATU TUJUAN dalam hidup kita, taruhlah itu 5 cm di depan kita sampai kita bisa terus memandangnya, sehingga kita SELALU TERKONSENTRASI pada tujuan itu, tidak berpaling untuk tujuan yang lain. Yah, memang sukses adalah tentang FOKUS.

Ngomongin fokus, kayaknya perlu juga nih, menilik pengalaman saya, sebagai seseorang yang akan merintis karier di dunia kepenulisan, halah. Gini2 saya juga punya pengalaman lho, lagian pengalaman emang guru yang terbaik to?! Emang sih, pengalaman yang saya miliki bukan sesuatu yang mengesankan, tapi semoga bisa mendewasakan. Jadi gini nih ceritanya. Dulu, susaaaaaaah banget buat saya to determine the focus of what i’ll do. Saya memang pemimpi, seperti yang kebanyakan dialami oleh orang-orang yang lahir di bawah naungan zodiak pisces *hare gene masi percaya zodiak?!*. Yes, we’re dreamer. Emang nggak ada salahnya bermimpi. Malah kita dianjurkan untuk berani bermimpi, tapi dengan catatan harus berani mewujudkan. Kalo nggak berani mah, sama aja! Kayak yang dibilang Bondan lagi: untuk apa bermimpi, kalau kau tak melangkah?! Jadi buat sukses, selaen harus punya modal mimpi dan cita2, harus ada kemauan keras untuk mencapainya. Nah, walopun bermimpi itu nggak salah, kebanyakan mimpi juga bikin kita kelimpungan lho! Gimana enggak?! Satu mimpi aja butuh kemauan keras buat meraihnya, apalagi kalo banyak?! Alih2 mewujudkan semua mimpi kita, mimpi2 yang uda kita siapkan malah nggak ada yang terwujud sama sekali. Kewalahan sih, jadinya satu keteteran, bakal menyusul yang lain. Nggak mau kan?! Itulah sebabnya kenapa fokus penting banget dalam mewujudkan mimpi kita.

Sebelom memutuskan berkarier dalam dunia tulis-menulis kayak sekarang, saya adalah orang yang nggak jelas. Nggak jelas disini bukan karena saya adalah anak muda yang doyannya hura2, gaul sanasini sembarangan, terjerumus dalam perangkap drugs and free sex, dan sebagainya dan sebagainya *weitz, kumat lebai*. Sama sekali bukan itu. Itu semua karena saya nggak bisa berfokus pada satu hal yang jadi tujuan hidup saya. Jaman itu saya masih nggak bisa nentuin, apa sih sebenernya tujuan hidup dan cita2 saya?! Pikiran saya waktu itu, hidup ini kan cuma sekali. Jadi bermimpilah sebanyak dan setinggi mungkin. Coba aja semua hal, ntar juga nyantol salah satu kan?! Jadi mulailah saya mencoba segala hal – yang mungkin bisa saya kembangkan untuk menjadi expert saya. Nggak tanggung2, banyak bidang resmi saya coba. Seni peran, musik, film, kepenulisan, broadcasting, politik, sampai kepecintaalaman. Tapi karena tidak didasari dengan keinginan kuat dan kemauan keras untuk bisa terus survive dalam bidang2 itu, alias setengah2, hasilnya ya kayak gini. Big zero. Saya jadi inget apa yang dibilang G.Sembada, bahwa SETENGAH2 BERARTI NOL, dan itu benar. Itu terjadi pada saya. Saya setengah2 dalam berkecimpung dalam bidang itu. Akibatnya saya tidak menjadi expert dalam semua – bahkan satu saja dari bidang tersebut. Uh, so sad?!

Jujur saja saya lupa cita2 saya masa kecil. Mungkin dokter ato polwan. Yang terakhir ini kayaknya nggak cocok, mengingat ukuran tubuh saya yang kayak liliput. Tapi yang akan saya bahas bukan dokter, bukan pula polwan. Mendingan membahas cita2 yang saya ingat aja ya?! Saya paling ingat cita2 waktu smp, sma, dan kuliah – sebelom sekarang. Karena pada masa2 itu saya mulai berpikir tentang hidup. Hidup yang akan saya jalani dan saya harapkan tidak ada kesia2an serta penyesalan di dalamnya. Wah, mule berat nih bahasanya, halah.

Waktu smp, saya pengen jadi penyanyi – maklum dari kecil udah hobi nyanyi. Makanya saya ikutan ekskul paduan suara tapi berenti di tengah jalan gara2 ningrum, temen saya juga berenti. Saya emang nggak pede ikutan kegiatan sendirian – parah banget. Trus waktu kelas 3 smp, kan lagi musim2nya ngeband tuh, suara saya udah dibilang lumayan bagus sama temen2, serak2 basah gitu. Mirip2 kikan gitu deh. Jaman segitu cokelat emeng lagi ngetop2nya, makanya saya jelas tersanjung waktu temen2 pada bilang gitu. Saya sempet ditawarin jadi vokalis band buat ngisi acara perpisahan sekolah sama anak2 sekelas. Tapi saya tolak gara2 ngerasa nggak pede tampil di depan umum. Wah, kayaknya saya perlu belajar banyak tentang self confidence nih.

Anehnya, target jadi penyanyi – ato minimal bisa perform di depan umum as a solis or vocalist – aja belom kesampean, saya udah punya cita2 laen. Bisa maen gitar. Ini gara2 pas jaman kelas 2 smp tuh, bisa maen gitar merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Bisa populer, punya banyak temen, cowok2 juga pada kagum, pokonya asik banget dah, kalo gape maen gitar. Gitu pikiran saya waktu itu. Makanya saya sampe maksa2 bapak saya buat beliin gitar2 murahan, paling nggak bisa buat gaya2an nenteng2 gitar kemana2. Inget ini saya benernya geli sendiri. Yang kayak gini2 nih, nggak pantes ditiru. Masak pengen punya gitar, cuma buat gaya2an doang?! Saya juga nggak berminat ikutan les gitar, takut ribet. Gimana tuh maksudnya? Pengen bisa maen gitar tapi nggak berminat belajar gitar. Aneh banget kan?!

Oiya, ngomongin jaman sma kayaknya seru juga. Jaman pencarian jati diri gitu. Abisnya saya suka nggak konsisten sama bidang2 yang bakal saya tekuni. Waktu kelas 1, saya benernya udah ditawarin ikutan ekskul paduan suara tanpa tes. Mungkin mereka udah pada tau ya, kalo saya berbakat *wew, narsis*. Tapi lagi2 saya tolak. Apalagi alesannya kalo bukan gara2 temen2 se-gang nggak ada yang ikutan tuh ekskul?! Saya males aja harus ikut ekskul sendirian, kayaknya garing banget. Padahal syapa tau disana bakalan ketemu temen2 baru yang juga seru kan?! Itu yang nggak saya sadari.

Saya malah ikutan ekskul teater – ekskul paling populer di sma saya. Namanya juga ekskul paling populer, jelas banyak peminatnya kan?! Termasuk temen2 gang saya. Saya benernya dari dulu tertarik sama ekskul ini. Kayaknya asik aja, syapa tau bisa masuk tipi dan jadi artis kan?! Lagian bude saya bilang, saya cukup berbakat untuk bidang satu ini. Emang sih, saya dulu sempet bercita2 jadi bintang sinetron, halah. Ternyata oh ternyata, bisa eksis di ekskul teater nggak semudah yang saya bayangin. Walopun dibilang punya bakat juga, kalo nggak diasah dengan totalitas 100%, hasilnya sama aja. Big zero. Dan kayaknya saya udah kena imbas dari tindakan saya deh. Waktu itu saya terkesan setengah2 dalam menjalani setiap latihan buat pementasan, entah itu sebagai pembaca puisi, mc, sampe jadi pemaen drama. Latihan nggak dateng tiap hari, trus kalo kena marah dikit sama pelatihnya, langsung keder. Maklum, di teater 10 – nama teater di sekolah saya – anggotanya emang diajarin pentingnya kedisiplinan secara maksimal. Nggak heran kalo pelatihnya tegas. Tapi saya malah mengartikan ketegasan ini sebagai sebuah kegalakan yang bikin saya takut. Cemen banget ya saya waktu itu! Walhasil, bukannya terpacu untuk terus meningkatkan performa, saya malah makin nggak semangat berkiprah dalam ekskul ini. Setelah satu semester nyoba bertahan, pada awal semester dua, saya mule mundur teratur – tentu saja diikuti temen2 yang dari niat awalnya emang cuma ikut2an. Lagi2 ini semua karena ketakutan – takut bosen, takut capek, takut dimarahin, hufh.

Emang dasar setengah2, nggak sukses di ekskul teater, bikin saya nyoba dan nyoba lagi hal baru yang belom pernah saya pelajari. Kali ini sasarannya adalah gitar – alat musik yang sempet pengen saya pelajari waktu masih smp. Latar belakang saya pengen belajar gitar kali ini adalah gara2 kecengan saya gape banget maen gitarnya. Makanya saya juga pengen tuh, dikit2 bisa gitar. Of course biar dia agak terkesan gitu sama saya,hehe. Akhirnya saya sama adek saya, icha, nyoba nyari tempat kursus musik yang harganya realistis. Tau sendiri dong, kursus musik biasanya pasang tarif yang nggak murah. Makanya saya pilih tempat les gitar yang deket rumah – biar irit bensin plus nggak mahal2 banget bayarnya. Baru jalan sebulan, rasa males menyerang. Masih dengan alasan yang sama, gurunya galak, bikin nggak nyaman aja belajar sama dia. Yaudah, akhirnya saya tinggalin juga les gitar tanpa dapet ilmu apa2 selaen genjrang-genjreng nggak jelas, bahkan sampe sekarang nggak satu pun akord bisa saya apalin dan maenin dengan benar. Kasian banget ya saya?!

Hmm. Kayaknya sih cuma segitu pengalaman coba2 saya di sma. Dan kalian tau akibatnya? Setengah2 sama sekali nggak bawa sukses. Tapi begonya, udah tau gitu, tetep aja saya ulangi dan ulangi di dunia perkuliahan. Bahkan lebih parah. Selama kuliah, tercatat saya pernah coba2 eksis dalam berbagai organisasi kampus yang bergerak dalam bidang yang beda2. Nggak cuma itu, saya juga ikut dalam berbagai audisi kayak pemilihan bintang pop vs dangdut, bintang radio, sampe open rekrutmen berbagai radio station di jogja. Sayangnya, gara2 setengah2 juga, nggak satupun dari audisi itu berhasil saya ikuti dengan sukses – lolos tahap pertama aja enggak! Hahaha.

Setengah2 yang saya maksudkan disini, saya nyoba berbagai bidang tanpa latar belakang yang jelas. Alasan saya untuk berkecimpung di bidang2 itu nyaris nggak bisa dipertanggungjawabkan. Namanya juga coba2, iya kan?! Jadi nggak satupun bidang yang saya ikutin bener2 sesuai dengan kata hati dan panggilan jiwa saya. Kebanyakan gara2 ikut2an, pengen keliatan keren, pengen keliatan berani dan gagah, dan alasan2 lain yang kurang rasional.

Liat aja waktu saya gabung di klub film kampus. Alasan saya gabung di klub ini karena saya pengen tau aja dunia film tu kayak apa, dan tentu saja, pengen keliatan keren. Taulah, anak2 film kan gadgetnya yahud2 gitu. Tapi dasar gaptek dan ikutan cuma gara2 keren2an doang, saya nggak bisa eksis lebih lama di klub ini. Baru tiga bulan gabung, saya udah nggak betah dan akhirnya keluar. Hal yang sama juga terjadi pas saya gabung di organisasi politik dan kesenian di kampus. Saya ikutan dua organisasi itu cuma pengen eksis aja, biar dicap mahasiswa aktif gitu, nggak kuliah pulang-kuliah pulang doang. Akhirnya, semua bubar jalan nggak sampe dua bulan! Waduhwaduh, yang gini2 jangan ditiru lah ya!

Oiya, waktu kuliah juga saya pernah pengen banget gabung di paduan suara mahasiswa. Waktu itu saya kembali berhasrat jadi penyanyi dan kayaknya jadi anggota paduan suara bisa membukakan jalan saya menuju cita2 itu. Tapi malangnya, baru seleksi tahap pertama aja udah gagal! Nggak aneh sih, masalahnya saya juga sama sekali nggak persiapan waktu ikutan seleksi itu. Tuh kan, kayak gitu aja masih ngarep lolos?! Impossible banget kan?! Hal ini nggak jauh beda dengen pengalaman saya ikutan berbagai audisi dalam dunia tarik suara, kayak yang udah disebutin di atas tadi. Saya pernah ikutan pemilihan bintang pop vs dangdut dan bintang radio. Saya ikutan juga bukan gara2 niat yang kuat, tapi lebih karena iseng2 aja. Kayak nggak ada persiapan gitu. Latihan nggak total, penampilan nggak diperhatiin maksimal. Wajarlah kalo nggak lolos, hehe. Pas saya ikutan open rekrutmen penyiar radio juga kayak gitu. Giliran disuruh ngirimin sampel suara, saya nggak ngirimin dengan kreativitas yang maksimal. Alih2 pake sofwer kayak adobe audition yang biasanya dipake buat record lagu, saya beneran ngirimin suara original saya – tanpa embel2 backsound ato apa gitu biar siaran makin enak didenger. Yaudalah, akhirnya nggak satupun open rekrutmen bisa saya menangi.

Pengalaman setengah2 saya yang paling menggelikan adalah waktu nyoba latihan gitar lagi. Kenapa menggelikan? Nggak lain nggak bukan gara2 motivasinya adalah kejelesan saya sama cewek yang pernah ditaksir pacar saya waktu itu. Jadi gini. Pacar saya dulu cerita kalo dia pernah suka sama temen smp-nya yang – bagi dia – perfect banget. Manis, tomboy, pinter motret, asik, dan supel. Nggak tau kenapa kok pacar saya demen banget sama cewek2 tomboy yang terkesan cuek. Padahal saya sama sekali bukan tipikal cewek kayak gitu. Yaudah, segala cara saya lakuin biar kesannya jadi cewek yang agak tomboy dan cuek. Salah satunya adalah dengan meneruskan cita2 yang tertunda, jadi gitaris *lebai*. Singkat kata, saya les gitar lagi, di tempat yang sama dan dengan guru yang sama juga. Begonya saya ya! Karena udah dua tahunan berlalu sejak saya keluar dari tempat les, guru itu sama sekali nggak mengenali saya. Hufh, aman, begitu pikir saya. Saya mulai belajar gitar dari awal, kali ini gitar klasik. Lumayan sih, udah bisa maenin satu dua lagu, walopun sederhana. Tapi jeleknya, penyakit bosenan saya kumat lagi. Kali ini yang jadi kambing hitam adalah biaya les yang menurut saya makin mahal aja. Waktu itu kan saya bayar les pake duit jajan yang dikumpul2in sejak bulan awal, abisnya nggak enak kalo nodong ortu mulu. Jelas ajalah biaya yang benernya nggak mahal2 amat itu jadi cukup memberatkan bagi saya. Alasan tepat yang cukup cerdik untuk mengakhiri segalanya. Dasar bego, setengah2 kok dipiara terus, gimana mau jadi orang sukses?! Harusnya dari awal saya juga tau, wong dari motivasinya aja udah nggak bener, gimana bisa berhasil?!

Sekarang saatnya ngomongin betapa setengah2nya saya dalam bidang lain. Kalo yang udah saya ceritain tadi sebagian besar dalam bidang kesenian, sekarang yang mau saya omongin adalah dalam bidang kepecintaalaman. Yep, gini2 saya masih terdaftar sebagai anggota mula mapala kampus. Sebenernya, jujur dari lubuk hati terdalam, saya kurang suka sama kegiatan ekstrem macem naek gunung, manjat dinding ato tebing, arung jeram, susur goa, de el el. Tapi karena pengen sekali aja nyoba ngerasain sensasi aktivitas2 otdor itu, saya mutusin gabung di mapala. Alesan lain juga karena adek saya, icha sering banget naek gunung sejak dia ikutan hiking club di sekolahnya, masak saya ketinggalan?! Aduh, betapa sempit pikiran saya waktu itu ya! Sebenernya ortu juga udah nggak gitu ngijinin saya ikutan gitu2an. Saya kan emang bukan cewek strong yang tangguh. Malah cenderung lemah dan penakut. Hmm. Tapi apapun yang terjadi, saya harus sukses eksis di mapala! Nggak tanggung2, semua rangkaian acara diksar alias pendidikan dasar yang benernya lumayan ekstrem kayak hiking di hutan dan gunung tiap hari selama 10 jam, survival alias nggak makan apapun kecuali yang ditemui di alam macem cacing, uler, daun2an nggak jelas, dan paling parah: jalan kaki seharian menyusuri rute sepanjang 40 km sukses saya lalui. Walhasil, berat badan saya turun, dari 42 jadi 39 kilo aja. Hmm. Tapi kayaknya kesuksesan buat eksis di mapala juga nggak bertahan lama deh. Semua itu gara2 saya takut dan nggak mau nyoba ngelakuin sesuatu yang lebih ekstrem, kayak nge-top – manjat sampe puncak – di wall, nyobain SRT – naek pake tali – pas susur gua, ngarung di kali yang arusnya deres, dan sebagainya dan sebagainya. Saya cuma berani otdoran yang aman2 aja. Intinya bener2 nggak nunjukin totalitas dalam berkarier di mapala deh! Trus, alesan saya males ngelanjutin nih kegiatan karena saya ngerasa underpressure sama kerjaan2 yang ditugasin oleh organisasi ini, beneran bikin saya pengen cepet2 hengkang. Hmmm. Gila banget ya saya?! Padahal udah susah2 ikutan diksar biar resmi jadi anggota mapala, eh begitu kesampean malah ditinggalin gitu aja! Ya, gini deh hasilnya. Belom ada ketrampilan yang bisa dibanggain dari gabungnya saya dalam organisasi ini. Dasar setengah2, susah deh!

Emang bener kata bang haji rhoma irama yang bilang kalo darah muda, darahnya para remaja. It’s because they always try to find something’s new. Sebenernya nggak ada salahnya juga kalo kita sebagai youth people, pengen tau dan nyobain segala hal yang baru buat kita. Karena bisa nambah pengalaman, wawasan, pengetahuan, intinya berguna buat self empowerment deh! Tapi please, jangan setengah2. Karena kayak yang udah diomongin di atas, setengah2 berarti nol. Masih menurut G.Sembada dalam buku perdananya, bahwa upaya2 yang jumlah totalnya kurang dari 100% – alias setengah2 – sama dengan nol. Dan kita nggak bakal bisa hidup tanpa berupaya 100% – karena ini adalah syarat kehidupan. Bahkan, disebutin juga bahwa angka 150%, adalah syarat kesuksesan. Jadi, siapa mau sukses, mutlak dia harus berupaya lebih dari 100% – alias 150%. Dengan gini, masihkah ada peluang buat orang yang kerjaannya cuma setengah2 dan nggak pernah punya fokus buat hidupnya?! Masih mau jadi orang kayak gini?!

Jauh lebih baik jadi orang yang hanya punya SATU KEAHLIAN tapi diberdayakan secara maksimal, ketimbang punya BANYAK KEAHLIAN tapi setengah2 dalam mengerjakan. Orang setengah2 nggak akan pernah dapet gelar expert – pakar. Karena sepanjang hidupnya digunakan untuk mengejar banyaaaaaaaaaak hal tanpa pernah sampe ke tujuan hidup yang sebenernya. Saya sendiri pernah dicela temen bahwa saya adalah orang yang setengah2 – buktinya bisa diliat dari pengalaman2 di atas. Emang sih, awalnya saya rada tersinggung, tapi lama2 saya pikir, ngapain juga tersinggung? Lha wong emang gitu kenyataannya. Dia bilang gitu waktu saya cerita pengen gabung kelompok mapala di kampus saya. Waktu itu saya udah nyoba segala hal – dan emang banyakan gagalnya gara2 setengah2. Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa nggak ada sejarahnya orang yang setengah2 itu bisa sukses. Saya udah baca teorinya di sebuah majalah remaja jaman saya masih smp, tapi baru ngebuktiin kebenarannya akhir2 ini, setelah saya baca The Power of Nekat. Makanya mulai sekarang, saya berjanji untuk bisa fokus dengan tujuan saya.

Tujuan saya jadi penulis dan apapun akan saya usahakan buat mencapai tujuan saya. Saya nggak akan melirik yang lain dan tergiur dengan cita2 lain yang mungkin gajinya lebih gede, kerjaannya lebih gampang, peluang suksesnya lebih lebar, dan segala kenyamanan yang ditawarkan profesi lain selaen menulis. Emang nulis saya akuin bukan hal yang sepele – karena kadang kita kehilangan ide, terserang bad mood yang akan menumpulkan ide, dan godaan paling berat: males ngelanjutin tulisan karena ngerasa nggak ada lagi yang bisa dilanjutin dari tulisan yang kita tulis. Tapi apapun yang terjadi, saya harus bisa dan nggak lagi terpengaruh dengan hal2 lain yang mungkin lebih menyenangkan dan menggiurkan.

Trus, setelah menentukan tujuan dan berfokus untuk itu, harus ada usaha yang nyata untuk mewujudkannya. Sama aja boong kalo kita udah fokus 100% tapi cuma ngomong doang. Salah2 ntar dicap nato lagi – no action talk only. Dalam kasus saya, kalo cita2 saya jadi penulis maka saya harus rajin menulis untuk meningkatkan expert. Kalo dalam buku Tuhan Inilah Proposal Hidupku, waktu yang kita gunakan untuk meningkatkan expert harus sama dengan waktu tidur kita sehari. Jadi misalnya nih, kita tidur sehari 6 jam, maka waktu yang kita pake untuk meningkatkan expert – dalam hal ini menulis, ya harus 6 jam, bagusan lagi kalo lebih. Dari pengalaman2 penulis yang udah ngetop nih, kayak Afifah Afra nih, dia selalu memaksakan diri menulis setiap hari. Apa aja. Jadi jangan sampe nunggu mood. Kan banyak tuh, orang2 yang ngakunya suka nulis, tapi selalu nunggu mood untuk menyelesaikan tulisannya *termasuk saya sih, hehe*. Mood itu diciptain, bukan ditunggu. Kalo lagi nggak mood gitu, mendingan cari suasana yang mendukung terciptanya mood bagus itu. Dengan jalan2 sore misalnya. Terus, kalo pengen tambah gape nulis, juga harus rela tuh, wara-wiri ikutan seminar ato workshop tentang kepenulisan, gabung forum para penulis (X: forum lingkar pena), kenalan sama penulis2 beken biar tau resep suksesnya. Pokoknya harus semangat ngelakuin yang gitu2an, buang jauh2 males2an yang ada pada diri kalian. Karena sekalinya males, bakal keterusan. Oiya, kalo tulisan kita udah jadi, jangan pernah ragu masukin ke penerbit. Ditolak2, santai aja. Nggak semua penulis langsung sukses kok. Yang terpenting adalah proses, bukan hasil. So, nikmatin aja proses menuju hasil akhir itu, kesuksesan. Ini juga berlaku lho, buat kalian yang punya cita2 laen selain penulis. Pengen jadi musisi terkenal misalnya, harus rela capek2 latian tiap hari selama waktu tertentu (sama kayak waktu tidur kita), ikutan workshop dan klinik musik, berguru pada musisi2 kondang buat curi ilmu, trus berani masukin demo album kita ke perusahaan rekaman. Gitu terus sampe pada akhirnya kesuksesan itu datang.

Jadi kesimpulannya, tetapkan satu pilihan dalam hidup kalian. Satu aja cita2, yang mungkin kalian sukai, kuasai, bisa menghasilkan – dan berfokuslah untuk itu. Just one. Jangan pernah berpaling untuk sesuatu di luar cita2 dan menjadikan kalian nggak akan sampe menuju cita2 itu. Then, do anything to reach your goal. Anything. Jangan pernah melakukan upaya yang setengah2, jadi usahakan semaksimal mungkin. Jangan pernah ada kata menyerah untuk satu cita2 mulia dan bernilai di mata kalian. Percaya aja slogan adidas, that impossible is nothing. Kalo kita yakin bakal sukses, ya emang gitu hasil akhirnya. Segala kesungguhan akan menggiring kita menuju sukses yang sebenernya. Last but not least, pray to God. Mohonlah selalu keridhoan-Nya. Karena seberapa pun keras usaha manusia, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan. Jadi berdoa juga jangan sampe dilupain. Setuju?!

Wah, saya mulai ngantuk banget nih. Nggak kerasa udah nulis berlembar2 sampe pagi gini. Semoga apa yang saya tulis tadi bisa menginspirasi kalian ya – paling nggak untuk tidak mencontoh kesalahan2 saya di masa silam, dalam hal ini setengah2 alias nggak fokus alias nggak total dalam melakukan suatu hal. Segini dulu aja ya, sampe ketemu di tulisan saya yang lain. Kip spirit!!!

July 26th 2009 3:07 a.m

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: