Toilet Training: Melatih Anak BAB dan BAK di Toilet

Dunia Sehat

Kemandirian mengendalikan hajat buang air besar dan buang air kecil merupakan tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh semua anak. Anak dikatakan lulus menguasai ketrampilan toilet training ini ketika anak bisa jalan sendiri ke toilet kemudian membuka celana untuk buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) dan kembali memakai celananya lagi. Dan, seluruh ketrampilan ini tentu saja harus kita perkenalkan secara bertahap. 

Syarat mengajari anak BAB dan BAK adalah kesiapan diri anak dan ibu. Anak pasti akan bisa mengontrol keinginan BAB dan BAK ketika secara fisik anak telah siap, ketika anak telah ingin tetap bersih dan kering. Tanda-tanda ini mulai ditunjukkan ketika anak berumur 18 – 24 bulan, terkadang lebih cepat dan bisa juga lebih lambat.

Kita tidak boleh memaksa anak. Anak yang dipaksa justru akan ketakutan. Masa-masa training toilet ini adalah termasuk dalam masa dimana anak rentan mengalami tindak kekerasan (dibentak, dicubit, dimarahi, dll) karena harapan orang tua melampaui…

View original post 1,451 more words

Comments (2)

kamu sungguh spesial, Nak

  1. Berbahagialah orang tua yg dikaruniakan anak wanita karna Rasulullah tlh menjamin baginya surga jk sabar dan sukses mendidiknya.
  2. Siapa yg diuji dgn mmiliki anak wanita, lalu ia asuh mreka dgn baik,mka anak itu akn mnjdi pnghlangnya dri api neraka(HR.Bukhari)
  3. Sbagian orang tua menganggp rmeh mndidik ank wanita, bahkan lbih mengunggulkn ank laki2. Pdhal wanita adlh tiang peradaban dunia.
  4. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan.
  5. Ggal mndidik ank wanita brarti klak kita akn kekurangan ibu baik di msa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.
  6. Ajarilah ank wanita kita akn keutamaan mnjaga kesucian diri bkn sekedar menjaga keperawanan. Suci & perawan itu beda!
  7. Perawan terkait dgn faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dengan faktor akhlak dan jiwa.
  8. Bnyk wanita yg bs jd msh prawan tp tdk suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup laki2 lain, asal tidak bersetubuh.
  9. Banyak juga wanita yg tdk prawan atas sebab kcelakaan, trjatuh, tp masih suci. Sebab ia tak biarkan laki-laki asing menyentuhnya.
  10. Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu mnjaga kesucian dirinya dlm kata, sikap & tingkah laku.
  11. Maryam tak sembarang bergaul dgn laki2 asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil (a.k.a tdk perawan) ia tetap suci di mata Allah.
  12. Demikian pula dgn Bunda Khadijah, istri Rasulullah yg tdk lagi perawan tapi digelari ‘Ath Thohirah’ atau wanita suci.
  13. Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga kesuciannya.
  14. Maka, tugas utama orang tua yg memiliki anak wanita adlh mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan.
  15. Ajarkan anak wanita untuk bersikap terhadap laki-laki asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri.
  16. Saat anak wanita blm baligh atau anak-anak, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas,meragukan & haram.
  17. Sentuhan pntas itu muaranya ksh syang. Ini dilakukan oleh orng lain kpd ank wanita yg blm baligh di bagian skitar kpla & pundak.
  18. Sentuhan yg meragukan. Yakni antara ksh syang versus nafsu. Biasanya brpindah-pndah tmpt.Dri kpla turun ke bahu trs ke pinggang.
  19. Jk sudah melewati batas bahu, ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat “Aku gak suka ah”.
  20. Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan & buah dada. Ajarkan anak kemampuan untk menolak & menghindar.
  21. Dgn mengajari ank wanita kita tntang sentuhan, mngajarkan jg kpd mreka tentang berharganya tubuh mereka. Tdk smbarangn disentuh.
  22. Selain itu, ajarkan juga kpd anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dengan beda.
  23. Buat anak wanita tdk membutuhkan sosok laki2 lain yg jadi ‘pahlawan’ nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya.
  24. Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai laki-laki lain. Sebab sudah ada sosok ayah idola dalam hidupnya.
  25. Sebagian besar remaja wanita yg mmutuskn untk brpacarn, karena tak punya laki2 idola di rumahnya sebagai tmpt berbagi.

Di atas adalah kultwit dari salah satu akun brand pakaian muslimah Melangit, @Melangit_75 yang saya rasa sangat penting untuk dbagikan. Selain sebagai salah satu bentuk syiar, kultwit tersebut juga berfungsi sebagai pengingat diri karena saya juga diamanahi anak perempuan usia batita.

Pendidikan anak, sungguh, bukan hal yang pantas dijadikan main-main atau spekulasi. Sebagai orang tua, kita harus benar-benar bersungguh-sungguh terhadap amanah yang dikaruniakanNya. Anak itu masterpiece. Investasi dunia akhirat yang nggak pantas kita sia-siakan. Merupakan tanggung jawab ayah dan ibu sepenuhnya. Karena tiap-tiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas anak yang diamanahkan pada mereka, sebelum anak-anak mereka dimintai tanggung jawab atas diri mereka.

Wallaahul musta’an.

Leave a Comment

ridho Allah dan ridho manusia

sebesar apapun keinginan duniawi tetaplah ia kecil

sesungguhnya keinginan yang paling agung adalah mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala

Maka barangsiapa mencari ridho manusia

dengan kemurkaan Allah

niscaya Allah akan murka kepadanya

dan membuat manusia menjadi murka karenanya,

dan barangsiapa mencari keridhoan Allah

dengan kemurkaan manusia

niscaya Allah akan meridhoinya dan membuat manusia

menjadi ridho padanya.

(from salafiyyun’s post on Instagram 12122014)

Leave a Comment

masih ada harapan

Kadang ketika sudah lelah dengan berbagai cobaan hidup, kita mengeluh, merasa menjadi hamba termalang, merasa dihinakan serendah-rendahnya dengan ujian bertubi itu, merasa Allah tidak adil terhadap hamba-hambaNya, ingin lari dari kenyataan, ingin menggugatNya, ingin menjadi orang lain yang hidupnya dianggap lebih baik. Namun kita lupa bahwa setiap ujian itu pasti punya tujuan. Dan kalaupun memang benar tidak bahagia di dunia, bukankah ada kehidupan lain yang jauh lebih pantas kita harapkan? Itulah istimewanya orang beriman. Masih bisa mengharapkan akhirat di saat orang-orang kafir tak mampu mengharapkannya.


 

Allah, kalau semua ini akan membuahkan ridhoMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk melalui semuanya, dengan selapang-lapangnya hati. Bukan dengan sesak, dengki pada orang lain yang dikaruniai kehidupan yang  — menurut kami — lebih baik.

Allah, kalau semua ini akan meningkatkan derajat kami di hadapanMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk terus bersabar, dengan sebaik-baik do’a, ikhtiar dan tawakkal.

Allah, kalau ini semua akan meringankan hisab kami di akhirat nanti, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk tetap berbuat baik pada orang-orang yang menzhalimi kami.

Allah, kalau ini semua merupakan pertanda bahwa Engkau memilih kami, ingin kami lebih mendekatkan diri kepadaMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk lebih menguatkan iman, meningkatkan khauf dan raja’ hanya kepadaMu.

Allah, kalau ini semua merupakan peringatanMu atas kesalahan-kesalahan kami sebelumnya, kami ikhlas. Semoga dengannya lebih ringan hisab kami di pengadilanMu kelak, semoga dengannya dosa-dosa kami yang begiiiiiitu banyaknya itu berguguran.

Berilah kami keyakinan bahwa ini hanya di dunia. Berilah kami kebahagiaan di akhirat jika apa-apa yang di dunia sudah tidak dapat lagi kami harapkan. Jangan hukum kami atas kesalahan-kesalahan yang dengan terpaksa kami lakukan karena tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Jangan bebani kami melebihi batas kesanggupan kami.

Ijinkan kami terus berharap, bahwa kami bisa menjadi wanita-wanita shalihah penyejuk mata suami, madrasah pertama dan terbaik bagi putra-putri kami.

Kami yakin Engkau sebaik-baik penolong, sebaik-baik tempat bergantung, sebaik-baik tempat mengadu, Engkau Maha Membolak-balikkan Hati, Maha Berkehendak dan Maha Menunjuki.

Hanya kepadaMu kami memohon segala sesuatu ya Allah. Kami percaya sekali bahwa jika ada satu hal yang mampu mengubah takdir, itu adalah do’a, kami akan terus berdo’a. Kami juga percaya, bahwa Engkau tidak akan membebani di luar batas kemampuan kami.

Kami mencintaiMu ya Allah. Dan kami ridho jika semua ini merupakan ketetapanMu.

 

 

Leave a Comment

ibu yang sesungguhnya

It’s great to be an excellent crafter. It’s great to be a great chef. It’s great to be a brilliant mother with multi-talents and lots of skills. But what you need to realize is, your kids don’t need a perfect mother. They just need you. Yes you, unconditionally. A warm-hearted and loving person who always willing to learn and grow to be better day by day. Your unconditional love is all they need and nothing more.

Nice quote dari blog keren ini agaknya cocok dengan apa yang kini sedang saya rasakan.  Ya, saya merasakan betapa Ruma membutuhkan saya, ibunya. Ruma mencintai saya, tanpa syarat. Dia tetap mencintai saya, walaupun saya tidak cantik, walaupun badan saya tidak ideal, daaan… walaupun saya tidak mesti selalu ada, menemaninya 24 jam dan 7 hari sepekan. Hey, realitanya memang begitu. Terima saja kenyataan menyakitkan ini, bahwa memang saya adalah ibu bekerja yang waktunya tidak selonggar ibu-ibu yang full menemani putra-putrinya di rumah. Yang meninggalkan anak hampir 10 jam per hari untuk membantu suami mencari nafkah. Sedih? Jangan tanya.

Lebih sedih lagi jika sudah berupaya maksimal untuk memperjuangkan keinginan ini, yakni berkhidmat pada suami, menjadi pendidik utama anak-anak alias ummul madrasah, mengurus rumah tangga, mentok begitu saja di sini. Buntu, sungguh saya merasa buntu. Saya merasa semua yang saya perjuangkan, hancur begitu saja karena berbenturan dengan kebahagiaan dan keridhoan orang-orang lain.

Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Allaah tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya. Dan mungkin sampai sini saja yang dapat saya lakukan. Tetap bertahan agar semuanya bahagia, meskipun orang yang paling kecewa dengan keputusan itu adalah diri saya sendiri. Fitrah seorang ibu adalah mengurus anak, dan tahukah bagaimana rasanya mengingkari fitrah? Sangat tidak nyaman.

Saat ini hanya bisa berdoa, semoga Allaah karuniakan hidayahNya pada mereka agar akhirnya saya bisa segera menjadi ibu yang sesungguhnya buat Ruma. Orang pertama yang mengenalkannya dengan Allaah, dengan Islam, dengan Rasulullaah dan para sahabat, dengan Al Qur’an. Sama-sama belajar akidah yang lurus, akhlak yang mulia, manhaj yang benar. Aah, Ruma adalah masterpiece yang sungguh tidak sebanding dengan gaji sejuta dua juta di instansi pemerintahan. Masih tegakah kalian membandingkannya dan berniat menyerahkan urusan sepenting itu pada orang yang bukan ibunya?

Wallaahul musta’an.

Semoga Allaah segera menunjuki.

Leave a Comment

Tentang Memilih Pasangan

ini nih, pentingnya meluruskan niat sebelum menikah

You'll Never Walk Alone

Pertanyaan: Ustadz, mengapa agama yang baik menjadi syarat utama dalam memilih pasangan (menikah)?

Jawab:

Menikah merupakan ibadah untuk membangun keluarga di atas kerangka agama Islam yang lurus. Karena menikah adalah sebuah ibadah, maka kita harus berkeinginan kuat agar setelah menikah dapat mewujudkan ibadah tersebut yang diiringi dengan ibadah-ibadah lainnya.

Dan untuk membangun keluarga di atas Islam yang lurus, maka kita (sebagai wanita) ingin agar pemimpin keluarga itu adalah seseorang yang bisa membawa dan membangun bawahannya untuk berislam dengan lurus.

Hal yang sangat tepat sebagai persiapan untuk itu kita berusaha mempelajari dan membekali diri dengan ilmu agama. Karena membangun keluarga bukan semata-mata masalah emosional dan finansial, yang jauh lebih penting adalah masalah manhaj, akidah dan ibadah. Jika meyepelekan masalah ini, berarti bisa menjadi indikasi bahwa belum mengerti agama atau memang agama tidak menjadi prioritas.

Dijawab oleh ustadz Assundee, Yayasan Pondok Pesantren Assunnah Cirebon

View original post

Leave a Comment

ujian dan kesabaran

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datangnya pertolongan Allaah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allaah itu dekat.” (QS Al Baqarah: 214)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (QS Al ‘Ankabut: 2)

Seseorang yang mengaku beriman pasti akan menemui ujian dalam hidupnya. Entah itu berupa kesenangan – hal yang disukai, atau kesedihan – hal yang dibenci. Banyaknya harta, anak-anak yang brilian, rumah dan perabotan mewah, jabatan tinggi, adalah beberapa ujian berupa kesenangan yang semestinya kita sikapi dengan penuh syukur.

Lalu jika suatu saat dalam hidup kita ditimpa kesedihan, langkah apa yang harus kita ambil untuk melaluinya? Ada satu kata yang begitu mulia. SABAR.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al Baqarah: 45)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allaah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 153)

“Dan bumi Allaah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az Zumar: 10)

Setiap orang yang beriman pasti diuji. Setiap orang yang ingin meneguhkan dirinya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allaah, menetapkan diri di atas jalan yang lurus, pasti akan menemui ujian. Itu pasti, niscaya. Dan seringkali ujiannya berupa suatu hal yang tidak kita sukai. Pahit, sungguh pahit cobaan itu. Tapi yakinlah, Allaah tidak akan menimpakan cobaan yang kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Sangat jelas perkataan Allaah dalam ayat terakhir surah Al Baqarah.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Apalagi hamba yang ingin mendekatkan diri padaNya. Ingin beribadah kepadaNya dengan sepenuh cara. Selalu ada ujian saat ingin melakukan ketaatan. Allaah ingin menguji sejauh mana kesungguhan kita dalam menaatiNya. Menguji komitmen kita, syahadat yang selalu kita lantunkan dalam setiap shalat kita.

Setiap kesulitan yang datang menimpa kita, jangan pernah berhenti yakin dan berharap, bahwa itu semua akan menjadi penggugur dosa-dosa kita, yang meringankan hisab di akhirat nanti. Insya Allaah.

Setiap kezhaliman yang dilakukan orang lain pada kita, setiap kenyataan pahit yang harus kita terima, setiap keadaan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan harapan, itu adalah cara Allaah untuk menguji kita, seperti apa kesabaran kita. Jika kita mampu mengahadapinya dengan sepenuh kesabaran, derajat kita akan diangkat. Namun jika tidak, kita mengeluh, marah-marah, berkata kasar, mengingkari takdir Allaah, menyesal terhadap semua yang telah terjadi, yaaa kita akan selalu diuji dan diuji dengan permasalahan yang sama sampai kita mampu mengahadapinya dengan baik.

Namun, sekuat-kuatnya kita, sesabar-sabarnya kita, tetap saja kita butuh sesuatu atau seseorang untuk menumpahkan semua kegundahan. Tentu sebaik-baik tempat untuk mengadu adalah Allaah. Maka menangislah dalam setiap sujud kita, basahilah sajadah kita dengan memujiNya dan meminta pertolonganNya agar dikuatkan menghadapi segala kesulitan. Kita selalu butuh Allaah. Dengan kegundahan itu, Allaah seperti mengingatkan kita bahwa Dia adalah sebaik-baik tempat untuk bergantung, meminta pertolongan.

Tidak ada salahnya juga untuk mengeluhkan permasalahan yang rasa-rasanya tidak dapat kita tanggung sendirian. Bagilah ia kepada orang-orang terdekat yang bisa kita percaya. Sepanjang orang itu tidak mempunyai niat buruk untuk semakin menghancurkan kita, mengompori kita untuk bermaksiat padaNya, membuat kita semakin sedih dan ingin mengeluh terus. Paling baik jika orang itu menasihatkan sabar.

Saat iman diuji, tak perlulah kita menceritakan detailnya di socmed. Nyetatus, ngetwit, atau apalah yang berbau kegundahan hati kita. Cukup Allaah dan orang-orang terdekat kita saja yang tahu. Apakah menulis status di FB dapat menyelesaikan masalah? Bukannya malah mengundang orang-orang untuk menanggapi, berkomentar apa saja, terhadap suatu masalah yang seharusnya kita simpan rapat.

Sebagai penutup, saya kutipkan perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah tentang kesabaran,

“Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….”

Sabar memang sulit. Hanya orang-orang terpilih yang mampu melakukannya. Namun pahalanya tanpa batas, sehingga sabar itu harusnya tanpa batas, tak bertepi. Jika ada yang mengatakan, “sabar itu juga ada batasnya” berarti dia sudah tidak sabar. Semoga kita semua mampu melalui semua ujian dan cobaan yang diberikanNya dengan sepenuh kesabaran. Aamiin.

 

Leave a Comment

Protected: ajari aku akhlak yang mulia

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

6 Dzulhijjah 1435: sebuah hijrah

Menelusuri isi blog sejak awal dibuat hingga hari ini, tampaknya pola fikir saya banyak berubah. Yang paling kelihatan di kategori Islam. Tampak ada beberapa manhaj yang saya dalami dari dulu sampai sekarang. Jujur, awal mula kecintaan saya terhadap Islam dimulai dengan mengenal manhaj tarbiyah melalui program mentoring di SMA, dilanjutkan dengan liqo sewaktu kuliah. Selama masa-masa itu ada masa futurnya juga yang tidak perlu saya sebutkan. Sampai saya bekerja di luar kota pun, saya masih cinta sekali dengan manhaj ini. Buku-buku terbitan penerbit “beraliran” tarbiyah pun masih memenuhi rak buku saya hingga kini. Kajian-kajian muslimah, liqo, tahsin semangat sekali saya ikuti (terutama ketika belum punya anak). Bahkan saya mulai berpenampilan “syar’i” dengan rok, gamis dan kerudung lumayan lebar juga karena mengenal manhaj ini.

Tidak saya pungkiri, media internet punya peranan penting dalam mengubah pola fikir saya, mungkin lebih tepatnya, cara Allaah menyampaikan hidayahNya juga melalui media ini. Tak apalah saya dianggap “belajar dari buku, bukan dari guru” tapi memang kenyataannya internet ini benar-benar bermanfaat bagi para pencari ilmu yang agak kesulitan berguru langsung dengan ustadz (walaupun pasti akan beda sekali rasanya menimba ilmu langsung dari ustadz dengan belajar via internet).

Di tengah-tengah menyelami manhaj tarbiyah, saya juga mengenal manhaj lain lagi yakni khilafah. Entah benar atau tidak ya nama manhajnya, hizbut tahrir itu lho pokoknya. Saya juga sempat “mengidolakan” salah satu ustadz dari khilafah yang belakangan ini naik daun, tapi tak perlulah saya sebut namanya.

Namun, ada satu manhaj yang benar-benar lain dari yang lain. Manhaj ini “paling meyakinkan” karena selalu menyertakan dalil-dalil ilmiyah, yakni Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Bahkan dengan mengenal manhaj ini, banyaaaaaaak sekali kebiasaan saya jaman jahiliyah yang layak dihapuskan: seperti nyanyian dan musik, berdandan di depan non mahram, berhias berlebihan alias tabarruj, ngobrol nggak penting dan beramah-tamah dengan lelaki ajnabi, bersalaman dengan non mahram, dsb. Intinya saya lebih mantap dengan Islam setelah mengenal manhaj ini. Manhaj apa sih yang sekeren ini? Tak lain adalah manhaj yang diikuti para pendahulu kita, salafush shalih. Manhaj salaf yang teguh memegang sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Bermula dari blogwalking ke blog-blog akhawat salaf (ketika hamil Ruma pada tahun 2013), saya menyimpan rasa penasaran yang begitu tinggi dengan manhaj mereka. Untuk apa mereka benar-benar menutup dirinya dari khalayak? Tidak memajang foto diri, mengenakan niqab di keseharian, masya Allaah mereka benar-benar tidak punya hasrat ingin tampil. Ternyata memang begitulah yang diperintahkan Allaah bahwa wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya, dan seluruh tubuh wanita merupakan perhiasan yang harus ditutup.

Oooh ternyata begitu toh. Betapa Islam memuliakan wanita ya. Tidak membiarkan mereka dipajang, diekspos, diumbar. Melainkan dijaga, ditutup rapat-rapat. Bahkan hijab terbaik bagi wanita adalah rumahnya. Duhai, kurang apalagi coba syariat Islam ini? Dengan mendalami manhaj salaf pun saya semakin mantap untuk resign dari pekerjaan, karena dengan bekerja saya terhalang dari pahala mengurus anak, mengurus rumah tangga, berkhidmat pada suami, dsb. Saya juga takut sekali jika Allaah menanyakan bagaimana pertanggung jawaban saya atas rumah dan anak-anak, mengingat sebagian besar waktu saya habiskan di luar rumah dengan alasan membantu suami mencari nafkah. Ya, memang seorang wanita boleh bekerja. Tapi seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu wajib mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga. Tidak boleh sesuatu yang mubah mengalahkan yang wajib.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berhijrah. Pertama yang harus dirubah adalah gaya berpakaian. Memang sudah lama saya berkerudung, tetapi.. berkerudung dan berjilbab yang sesuai syariat? Belum sama sekali. Akhirnya saya beranikan diri untuk memakai pakaian syar’i perdana pada 6 Dzulhijjah 1435 (30 September 2014) yang saya anggap sebagai momen hijrah. Saya cuek saja, meskipun saya masih belum menjadi IRT, status saya sampai detik ini masih ibu bekerja. Tapi saya lakukan sajalah apa yang sudah mampu saya lakukan, yakni dengan berjilbab yang sesuai syariat. Saya tutup telinga terhadap perkataan yang sempat mampir, di antaranya: ikut aliran apa, kok berubah, kok kurang membaur (kalau di kantor sedang ngobrol nggak jelas bercandaan laki perempuan ngomongin ngeres-ngeres gitu penting banget saya ikut berbaur, ngobrol nggosip ngomongin orang gitu apa harus ikut nimbrung, jadilah di kantor saya lebih banyak diam).

Banyak sekali PR dan perbaikan yang harus saya lakukan, tidak hanya yang sifatnya pribadi saja. Mengikuti manhaj salaf bukan cuma mengikuti serangkaian ibadah-ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullaah saw., mengikuti kajian dengan ustadz-ustadz yang tsiqoh, melainkan juga memperbaiki akhlak dengan Rasulullaah saw. sebagai contohnya. Akhlak kepada suami, kepada anak, kepada kedua orang tua dan mertua, kepada saudara, kepada karib kerabat, kepada sahabat, kepada teman, kepada orang-orang di lingkungan sekitar, dan disitulah tantangan terbesarnya. Dengan berakhlak baik pada mereka tentu akan membuahkan kecintaan pada kita, sehingga mereka pun menjadi tertarik mempelajari manhaj yang kita ikuti. Insya Allaah. Aamiin. Wallaahul musta’an.

 

Comments (2)

Older Posts »