efek menulis: sembuh dari psikosomatis

Posting ini adalah tulisan yang saya kirimkan dalam Lomba Menulis bersama Jonru pada Desember 2011 yang bertema efek menulis sebagai terapi. Karena temanya masih berbau writing, tidak ada salahnya saya post disini. Selamat menikmati.

Efek Menulis: Sembuh dari Psikosomatis

Bagi saya, menulis bukanlah hobi. Karena saya tidak menulis seproduktif Mas Jonru. Saya juga bukan writing-addict seperti Mbak Afifah Afra yang mencontohkan tips menulis setiap hari minimal satu jam. Saya hanya menulis jika fikiran sedang kacau, perasaan galau, intinya menulis bagi saya adalah sebuah media penyaluran perasaan negatif yang saya miliki.

Saya pernah mengalami satu peristiwa yang saya sebut sebagai sebuah masalah besar, yakni ketika harus hijrah ke ibukota karena diterima bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Lho, bukannya itu membahagiakan ya? Bukannya pekerjaan itu memang saya pilih dan saya mengikuti tesnya dengan kemauan sendiri? Tetapi entah kenapa, menyadari bahwa sebentar lagi saya akan meninggalkan Jogja dan segala kenangan di dalamnya membuat saya begitu sedih. Mungkin mulut bilang ikhlas, tetapi hati dan fikiran saya belum sepenuhnya rela menghadapi kenyataan bahwa saya harus meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabat yang saya cintai di Jogja. Jujur, saya juga takut menghadapi ibukota yang kata orang lebih kejam daripada ibu tiri.

Akibat perasaan yang tak serba tak karuan itu, tiba-tiba pipi kanan saya terasa sakit sekali. Ternyata ada bengkak di sana. Saya nggak tahu apa nama penyakit ini dalam bahasa Indonesia, tetapi orang Jawa menyebutnya sebagai gondongen (penyakit menular akibat inveksi Paramyxovirus yang menyerang kelenjar ludah sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah – http://www.infopenyakit.com). Setelah diperiksakan ke dokter, dokter bilang nggak ada yang perlu dikhawatirkan, beliau hanya memberi obat anti nyeri dan vitamin B kompleks. Sesampainya di rumah langsung saya minum kedua jenis obat itu. Belum terlalu ngefek. Lalu saya mikir begini, ‘Apa saya stress ya gara-gara mau ditempatkan di Jakarta? Dulu kan juga pernah kena eksim psikosomatis (semua sakit fisik yang disebabkan oleh kondisi mental atau emosi penderitanya – bppsdmk.depkes.go.id.)’ Akhirnya, saya tuliskan semua kegundahan hati saya dalam tulisan berikut.

Fainna ma’al ‘usri yusraa. Inna ma’al ‘usri yusraa. Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Dan pasti, Allah menempatkan kiki di jakarta, memang yang terbaik buat kiki. Pasti ada hal lain di luar pengetahuan kiki, yang memang mengandung hikmah. Kiki yakin. Ini sama sekali bukan kesulitan. Kalaupun toh saat ini, kos-kosan itu belum juga kiki dapatkan, ya wajar aja toh? Pengumuman baru kemaren, pasti segala sesuatu juga ada prosesnya kan? Dan harus ada ikhtiarnya, ga mungkin instan, langsung dapat, langsung ada tawaran, tanpa mencari bantuan.

Mungkin aja, Allah menempatkan kiki di jakarta biar kiki bisa jadi orang yang lebih luwes bergaul. Lebih care sama teman-teman. Lebih menghargai kebersamaan dengan orang-orang yang kiki sayangi. Siapa tau juga to, kiki disana bisa jadi orang yang lebih rajin menjalin silaturrahim, lebih perhatian sama keluarga dan teman-teman baik yang ada di jakarta, di jogja, maupun di kota-kota lain. Kalo harapan kiki sih memang demikian. Selain itu, kiki juga berharap di jakarta kiki bisa berkembang, ga Cuma jadi katak dalam tempurung kayak kiki selama ini. Hehehe, seenggaknya kalo kiki di jakarta kan, kiki jadi ga malu-malu lagi kalo mau bergabung di organisasi-organisasi Islam, sosial, kepenulisan, atau apalah yang kira-kira bisa memberdayakan potensi kiki. Ya gimana mau malu-malu, namanya juga perantau kan, nggak ada salahnya kalo pengen sesuatu yang baru dan beda – tentunya dalam konotasi positif lho. Kalo di jogja terus, kayaknya piyeee gitu, kalo pengen mengembangkan diri, isin je, lha merasa sudah terlambat, hehehe.

Tapii, kalo ngomongin segala sesuatu berkait pergaulan, kayaknya kiki memang mengalami sedikit keterbelakangan deh. Ya gimana, tau sendiri kaaan, jaman sekarang ngetrennya adalah gaul online alias lewat dunia maya: facebook, twitter, dan segala macemnya. Padahal, tau sendiri, kiki paling males, kayak merasa bener-bener nggak gaul deh di dunia virtual kayak gitu. Nggak tau kenapa, muales buanget pokoknya. Paling seneng sih ngeblog aja. Ya gimana enggak, facebook atau twitter kiki tu sepiiiinya, masya allah. Haduuuh, gimana yaa? Apakah gaul di dunia maya bener-bener penting? Kalo menurut kiki, kok asikan ketemu langsung, silaturrahim langsung, atau smsan gitu ya? Daripada wall-wall-an atau comment-comment-an lewat facebook, atau saling melempar tweets di twitter. Sumpah, kalo begitu-begituan, kiki paling payaaaah.

Ya Allah, apakah kalo nggak terlalu gaul di dunia maya itu salah satu indikator kurang terampilnya bergaul di dunia nyata?? Nggak kan, ya Allah?? Ya gimana ya, rasanya kalo buka facebook atau twitter gitu kok malah merasa asing dan tersingkir. Terus suka nggak tenang aja liat facebook-nya orang, apalagi kalo orang itu pernah kiki taksir sebelumnya. Waduh, kok jadi nggak normal gini ya, kayak orang sakit jiwa, hehehe. Hmmm, kayaknya isi tulisan ini jadi nggak mutu ya? Apaan tu, pake ngomongin facebook segala?? Padahal awalnya menyitir ayat-ayat al quran lho, hehehe.

Ya semoga saja, ya Allah. Kiki bisa segera dapat kosan ya. Kiki pengennya sih yang deket mesjid gitu, biar bisa subuhan tiap pagi. Terus bantu kiki juga, biar bisa jadi hamba-Mu yang bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau beri. Tentunya perwujudannya juga dengan syukur dengan amal perbuatan, misalnya dengan sedekah lebih banyak, terus juga dengan lebih perhatian dan peduli sama orang-orang di sekitar kiki.

Hmm, yaudah deh. Kayaknya kiki udah plong deh, habis nulis-nulis disini. Pokoknya kiki tu jadi goodmood banget kalo habis nulis. Apalagi nulisnya dengan menyebut nama Allah. Niatnya curhat sama Allah gitu, hehehe. Yaudah sekarang kiki mau lanjut ngeblog. Semangaaaaaat. Memang di balik kesulitan selalu ada kemudahan. I believe it.

1/26/2011 10:44:27 PM

Ajaibnya, belum selesai tulisan tersebut ditulis, rasa nyeri di pipi kanan saya berangsur mereda. Bengkaknya juga mulai hilang. Berarti saya bukan gondongen dong? Lalu yang tadi itu kenapa ya? Apa ini yang dinamakan efek terapi menulis ya? Mungkin nyeri dan bengkak yang saya derita adalah penyakit psikosomatis yang hanya muncul pada saat penderitanya mengalami stress akibat sebab-sebab psikologis. Dan obat bagi itu semua adalah menulis. Kini bagi saya, menulis bukan sekedar media aktualisasi diri dan penyaluran perasaan negatif. Lebih dari itu, menulis juga merupakan terapi psikologis paling mujarab.

4 Comments »

  1. arista said

    salam kenal mb, mks tipsnya mg mujarab jg dg saya. Amiin

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 998 other followers

%d bloggers like this: